\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n
\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_title":"Setelah Berhenti Merokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"setelah-berhenti-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-04 10:03:08","post_modified_gmt":"2024-01-04 03:03:08","post_content_filtered":"\r\n

Benarkah berhenti merokok membuat kita menjadi sehat?<\/em><\/p>\r\n

Pada sebuah selasar yang nemisahkan dua bangunan, sebuah pendopo dan sebuah ruang kerja penerbitan buku, saya berjumpa dengan dua orang pria dengan usia di atas 50 tahun. Ketika itu sudah memasuki malam. Hawa dingin pegunungan turun. Ditambah musim pancaroba, dingin kian menjadi.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Segelas kopi dan berbatang-batang kretek menemani obrolan kami malam itu. Beberapa orang lain beraktivitas di pendopo dan ruang penerbitan. Sesekali mereka bergabung berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tempat pertemuan kami itu, sebagai kantor, menurut saya adalah salah satu kantor terbaik di Yogya. Sleman lebih tepatnya. Dekat sawah, ada kolam ikan, dan tentu saja hawa sejuk pegunungan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Museum Kretek Kudus, Bukti Kretek Asli Warisan Budaya Nenek Moyang<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Obrolan saya dengan kedua orang pria itu melingkupi bermacam tema. Pendidikan, pengorganisasian desa, pertanian, dan ragam tema lain yang melintas di kepala. Saya lebih banyak menjadi pendengar sembari sesekali bertanya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Hingga akhirnya, obrolan tiba pada tema pengalaman kedua pria itu terkait dengan pengalaman berhenti merokok. <\/strong><\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria pertama, sebelumnya seorang perokok. Ia dipaksa dan terpaksa berhenti merokok usai mendapat serangan stroke. Delapan bulan Ia berhenti merokok. Pada masa-masa awal berhenti merokok, Ia merasa ada yang kurang, tidak seperti biasanya, merokok setelah makan, saat berbincang, atau ketika bekerja di depan komputer.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Rokok Sin Dibuat dalam Keadaan Suci dari Hadast<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Istrinya selalu menjadi pengawas agar Ia sama sekali tidak merokok. Ini bertahan hingga delapan bulan. Pada bulan ke delapan Ia berhenti merokok, istrinya sudah lebih sebulan menderita batuk. Batuknya itu tak kunjung reda meski sudah mencoba bermacam pengobatan. Hingga akhirnya pria itu mengajak istrinya ke pengobatan alternatif dengan metode balur rokok dan asap rokok. Istrinya sembuh. Sejak saat itu, hingga usianya mencapai 61 tahun kini, pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Pria kedua, berhenti merokok setelah sebelumnya menjadi perokok berat usai operasi sinusitis. Dokter yang merawatnya yang menganjurkan itu. Istrinya, betul-betul menjadi pengawas yang gigih. Selain menjaga agar Ia tidak merokok, istrinya juga rajin mengumpulkan literatur yang berisi bahaya-bahaya dari aktivitas merokok. Berita-berita bahaya rokok di surat kabar, Ia kliping dan diserahkan kepada pria itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\"Kalau jadi aktivis anti-rokok, istri saya jago sekali pasti. Referensinya sangat lengkap.\" Ujar pria itu kepada saya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jika pria pertama berhasil berhenti merokok selama sekira delapan bulan, pria ini, berhenti kurang dari lima bulan saja. Sayangnya, pria itu lebih dahulu pamit sebelum menceritakan mengapa Ia kembali merokok pada bulan ke lima usai berhenti merokok. Dan bagaimana Ia bisa meyakinkan istrinya untuk mengizinkan pria itu kembali merokok.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebelum pamit, pria itu hanya bilang, \"Sekarang mah saya sudah nggak pernah beli rokok. Istri saya yang rutin membelikan saya rokok. Dia biasanya nyetok, satu slop setiap pekan untuk saya.\"<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6209","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6205,"post_author":"904","post_date":"2019-11-05 06:57:28","post_date_gmt":"2019-11-04 23:57:28","post_content":"\n

Merokok dan kegiatan habitus lainnya dalam hidup ini, bagi saya, mesti memiliki ritus dan alasan tersendiri dalam benak pikiran. Meski awalnya kegiatan itu sebatas ikut-ikutan dan kemudian kita nikmati menjadi kebiasaan pribadi. Hal ini bukan untuk berlaga menjadi manusia sok filosofis, tapi barangkali penting untuk mengetahui apa yang akan dibentuk oleh kebiasaan itu sendiri dan sejauh apa pengaruhnya untuk tubuh.<\/p>\n\n\n\n

Mengenal rokok, diawali dengan sebuah rasa penasaran dan pikiran skeptis anak belia bau kencur di pondok pesantren. Seperti apa rasanya sebatang rokok yang hanya mengeluarkan kepulan asap dan mengapa sebagian pondok begitu melarang kegiatan ini untuk para santrinya. Bahkan hukumanya bisa jadi fatal. Di pondok saya, mengonsumsi rokok kemudian terendus secara basah oleh pengurus, taruhannya adalah penggundulan mahkota rambut atau bahkan menjadi tontonan masyarakat pondok dengan penyulutan rokok dalam jumlah yang lebih banyak.<\/p>\n\n\n\n

Sering timpal menimpali bersama teman perihal cerita alasan yang akhirnya membawa mereka menjadi seroang kretekus. Begitu pula berbagi cerita tentang kemungkinan untuk berhenti dari aktivitas yang maha tuma'ninah ini. Suatu hari bersama seorang kolega di tempat KKN, ia mengajukan sebuah pertanyaan di tengah sepi kegiatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Zen, lu ga ada niatan buat berhenti ngerokok?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ga ada sih. Lu gimana?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Lah ngapa dah? Bukanya rokok itu bikin boros. Gw sih ada niat, tapi ga bisa. Udah nyandu kayaknya deh.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bukan soal boros, bro. Rezeki itu kan udah ada dan bagaimana kita nya ngatur\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bener juga sih. Tapi gila banget, anjir. Cukai rokok itu sinting. Mahal pisan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Santai aja sih, bray. Emang cukai rokok itu mahal. Tapi banyak cara buat bersumbangsih buat negeri ini, cuy. Salah satunya, ya, ini. Mengamini kretek yang kita konsumsi tiap hari udah bantu cukai negara dan sirkulasi ekonomi petani cengkeh dan tembakau muter terus.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Taek, lu. Sok filosofis!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ini bener cuy! Lu ga tau kan gimana perokok sekarang begitu dikerdilkan lewat iklan pemerintah dan kaum anti tembakau?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang pemerintah ngelarang iklan rokok, ya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Laaaah, maliiiih. La u kemana aja!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, kan gw ga paham soal begituan, ngerokok mah ngerokok aja kali\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah ini, nih. Kita harusnya paham, bro, sama habitus kita sehari-hari termasuk soal komoditasnya!\"
<\/p>\n\n\n\n

\"Bodo lah gw mah, pusing ngurusin begituan!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bro, semakin kita merasa masa bodo justru semakin kita ga peduli sama apa yang kita geluti.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Emang ngapa sih harus segala paham begituan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, supaya ada alasan logis aja. Biar kita disebut ga ikut-ikutan. Soalnya gw sih suka aja gitu nyari tau sama apa yang jadi kebiasaan gw sendiri.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Terus kenapa pemerintah ngelarang iklan rokok, padahal kan ngasih cukai buat pajak negara yang gede?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Nah, lu jadi kepo sendiri kan sekarang?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ya, udah terus kenapa? Ga usah kebanyakan ngomong!<\/p>\n\n\n\n

\"Pemerintah itu sebenernya bukan ngelarang, bro, hanya membatasi aja iklannya. Soalnya produk ini emang laku di pasaran tapi diasumsikan bahaya buat kesehatan.<\/p>\n\n\n\n

\"Ah sok ide! Emang ga baik kan rokok itu buat kesehatan?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Bray, menurut sebuah penilitian, tubuh kita ini bukan memenuhi kebutuhan, tapi membangun kebiasaan.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya?\"<\/p>\n\n\n\n

\"Maksudnya begini; merokok ga merokok bukan soal sehat tidak sehat, tapi ya soal biasa atau tidaknya kita sama habitus itu sendiri. Termasuk sama komoditas lain yang kita konsumsi sehari-hari\"<\/p>\n\n\n\n

\"Ah pusing!\"<\/p>\n\n\n\n

\"Sama.\"<\/p>\n\n\n\n

\"Hahaha\"<\/p>\n\n\n\n

Lewat obrolan di atas, merokok mungkin terus menerus dipersepsikan sebagai aktivitas yang berbahaya untuk kesehatan. Silakan berdebat sesuai referensi dan kadar pengetahuan kalian masing-masing. Terlepas itu, yang mesti banyak diketahui dan diakui, aktivitas lewat komoditas ini mengurat bersama akar sejarah bangsa ini tumbuh dalam ruang yang begitu intens bagi sebagian besar masyarakat.<\/p>\n\n\n\n

Artinya dampak yang niscaya hadir bukan persoalan ekonomi dan kesehatan semata. Lewat aktivitas ini setidaknya memungkinkan membuka ruang sosial bagi masyarakat dari generasi ke generasi yang menjadi teman sejati bagi kebiasaan mereka sehari-hari.
<\/p>\n","post_title":"Obrolan Rokok yang Sok Filosofis","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"obrolan-rokok-yang-sok-filosofis","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-05 06:57:31","post_modified_gmt":"2019-11-04 23:57:31","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6205","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6199,"post_author":"919","post_date":"2019-11-03 11:10:25","post_date_gmt":"2019-11-03 04:10:25","post_content":"\n

November 2019 ini menjadi bulan yang baik, setidaknya untuk saya sendiri. Diawali dengan hujan deras dan mendung yang mulai\u00a0memayungi\u00a0Indonesia, menandakan berakhirnya musim panas. Bulan ini juga saya mendapatkan kabar yang menyenangkan;\u00a0My Chemical Romance\u00a0akhirnya manggung dan bermusik lagi. Satu kabar yang cukup mengejutkan mengingat band asal Inggris tersebut sudah\u00a0vakum\u00a0karena menyatakan bubar pada 2013 lalu.

My Chemical Romance\u00a0adalah\u00a0soundtrack\u00a0kehidupan saya saat masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Saya merupakan orang yang cukup banyak mendengar varian\u00a0genre\u00a0musik, kesenangan terhadap mendengarkan radio ternyata membuka cakrawala musik dalam kehidupan saya.\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah salah satunya, dia semacam band yang lagunya wajib didengarkan oleh\u00a0tongkrongan\u00a0saya. Jika tak berlebihan, saat nongkrong lagunya selalu diputar bak lagu kebangsaan yang terus dinyanyikan saat upacara kemerdekaan tiba.

Segala hal yang berbau\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi buruan saya dan teman-teman di\u00a0tongkrongan\u00a0saat itu. Pada dekade 2009-an, kami masih tak kesulitan untuk mencari kaset CD band yang digawangi oleh Gerard Way, Ray Toro, Mikey Way, Frank Iero tersebut. Untuk membeli kasetnya kami mampu, namun kami memiliki keterbatasan untuk membeli\u00a0merchandise My Chemical Romance\u00a0seperti kaos, poster, dan yang lainnya. Beruntungnya di era saat itu kami memiliki Blok-M, tempat dimana\u00a0merchandise\u00a0band-band dan musisi dari segala\u00a0genre\u00a0dijual di sana, dan yang terutama, harganya sangat terjangkau!

My Chemical Romance\u00a0juga adalah tentang kisah cinta SMA saya. Kata orang, cinta saat SMA adalah sesuatu yang indah, saya cukup sepakat. Karena rasanya cinta saat itu terasa murni. Suka pada pandangan pertama, mengejar seseorang tanpa berpikir panjang dan ribet. Jika jadian dan berpacaran dunia serasa milik berdua. Sebaliknya, bila putus dunia rasanya berhenti dan butuh upaya yang kuat untuk bangkit lagi.

Seringnya,\u00a0My Chemical Romance\u00a0menjadi pengiring kisah patah hati saya. Baik itu saat putus dari pacar atau gagal mendapat cewek yang diidamkan. Maka sudah pasti lagu dengan judul seperti\u00a0Helena, Cancer, I dont love you, selalu saya putar di hape nokia 6600 saya yang bentuknya mirip peti mati itu. Sebuah kenangan yang tak pernah saya lupakan bagaimana lagu itu terus saya dengarkan juga saat perjalanan dari rumah menuju sekolah, di antara Jakarta yang hujan, di dalam metromini yang saat itu secara tidak resmi menjadi bus sekolah bagi para pelajar.

Maka saya juga berterimakasih juga pada kehadiran MTV yang tayang di Global TV pada saat itu. Saya tidak mau untuk membandingkan zaman, anak sekarang beruntung memiliki internet dengan\u00a0youtube\u00a0dan\u00a0spotify.\u00a0Kami saat itu menunggu tayangan dari MTV untuk mendengarkan lagu-lagu top. Tentu awal saya menyukai\u00a0My Chemical Romance\u00a0berkat MTV, saat mereka memutar video klip lagu\u00a0\u2018Helena'\u00a0yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Jika saya tidak salah,\u00a0My Chemical Romance\u00a0pernah sekali tampil di Jakarta saat Januari 2008 silam. Saat itu saya masih kelas dua SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri, jajan pun hanya 10 ribu rupiah dalam sehari. Tapi ini bukan persoalan saya datang \/tidak ke konser tersebut. Menurut saya, konser pada Januari 2008 tersebut menjadi awal mula\u00a0hype My Chemical Romance\u00a0di Indonesia mulai tumbuh.

Memang, Gerard Way dkk memulai dan merilis album pertama pafda 2002 silam. Namun bisa dikatakan,\u00a0My Chemical Romance\u00a0mulai dikenal banyak orang dan sukses lewat album\u00a0The Black Parade. Lewat album berdurasi 51:56 menit ini\u00a0My Chemical Romance\u00a0juga berhasil masuk dalam nominasi\u00a0Grammy Award\u00a02008 lalu dengan kategori\u00a0\u2018Best Boxed or Special Limited Edition Package\u2019.\u00a0Meski pada akhirnya pada nominasi tersebut mereka harus kalah dari band Inggris yang lebih senior,\u00a0Radio Head.

Bicara\u00a0My Chemical Romance\u00a0adalah tentang nostalgia dan nantinya tepat pada 20 Desember ini mereka akan berkumpul lagi untuk gelaran konser reuni di Shrine Expo Hall di Los Angeles. Saya memang tidak akan hadir di acara tersebut mengingat lagi-lagi keterbatasan waktu dan dana. Namun setidaknya, di tanggal tersebut saya akan nongkrong kembali bersama rekan-rekan SMA dan membicarakan hal-hal yang sudah-sudah, membosankan? Tidak. Karena masa SMA adalah hal yang terindah dalam fase kehidupan, terima kasih\u00a0My Chemical Romance.\u00a0


<\/p>\n","post_title":"My Chemical Romance dan Reuni yang Dirindukan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"my-chemical-romance-dan-reuni-yang-dirindukan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-11-03 11:10:34","post_modified_gmt":"2019-11-03 04:10:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6199","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6184,"post_author":"883","post_date":"2019-10-29 07:41:32","post_date_gmt":"2019-10-29 00:41:32","post_content":"\n

Pasca diresmikan kebijakan kenaikan tarif cukai rokok tahun 2020, isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM (Sigaret Kretek Mesin) dan SPM (Sigaret Putih Mesin) kembali mencuat ke permukaan. Ada dua pihak yang sejak dulu vokal menyuarakan isu ini, pertama adalah antirokok dan yang kedua adalah Philip Morris.
<\/p>\n\n\n\n

Isu tersebut sebenarnya bukanlah isu baru, karena setiap tahun selalu dihembuskan. Namun dengan kondisi industri kretek yang sedang syok akibat tingginya angka kenaikan tarif cukai rokok, isu penggabungan yang sedang berhembus ini kembali menambah was-was produsen kretek tanah air.
<\/p>\n\n\n\n

Pasalnya isu penggabungan batas produksi dan tarif cukai rokok SKM\u00a0 dan SPM sangat merugikan industri kretek dan hanya menguntungkan produsen rokok putih yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional. Industri kretek dirugikan karena tidak ada lagi barier dari negara terhadap kretek sebagai produk khas hasil tembakau Indonesia. Dalam hal ini negara bak melepas rantai anjing untuk membunuh mangsa-mangsanya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kebijakan Simplifikasi Layer Cukai Adalah Rencana Pembunuhan terhadap Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekarang mari kita bedah kenapa dua kelompok yang disebutkan di atas sangat berhasrat mendorong wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Pertama kelompok antirokok, mereka mendorong wacana ini karena pesanan dari big bos<\/em> mereka agar peraturan cukai rokok di Indonesia selaras dengan nafas FCTC (Framework Convention Tobacco Control).
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan.
<\/p>\n\n\n\n

Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang.
<\/p>\n\n\n\n

Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n

Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna).
<\/p>\n\n\n\n

Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek.
<\/p>\n\n\n\n

Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. 
<\/p>\n\n\n\n

Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional.
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n

Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau.
<\/p>\n\n\n\n

Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d.
<\/p>\n\n\n\n

Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari.
<\/p>\n\n\n\n

Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini.
<\/p>\n\n\n\n

Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti.

Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara.

Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\"\"
Foto: Dokumen Pribadi @wawanmeger<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n

Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya.
<\/p>\n\n\n\n

Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n

\u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya.
<\/p>\n\n\n\n

Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n

\u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa.
<\/p>\n\n\n\n

\u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus.
<\/p>\n\n\n\n

Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus.
<\/p>\n\n\n\n

Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

\nhttps:\/\/www.youtube.com\/watch?v=TRI_HPYvThQ\n<\/div>
TUTORIAL MELINTING<\/figcaption><\/figure>\n","post_title":"Melinting Bersama Para Tukang","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melinting-bersama-para-tukang","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-08 11:53:50","post_modified_gmt":"2019-10-08 04:53:50","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6128","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6114,"post_author":"877","post_date":"2019-10-02 10:43:05","post_date_gmt":"2019-10-02 03:43:05","post_content":"\n

Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n

Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n

Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n

Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau.  Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n

Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n

Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n

Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n

Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n

Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.  Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n

Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. 
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};