Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n
Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n
Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n
Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus.
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Rokok kretek ada dan muncul hasil dari kreativtas putra Kudus H. Djamhari namanya. Beberapa petunjuk tempat ia lahir dan tumbuh besar ada yang mengarah di desa Langgardalem, ada yang mengarah desa Kauman Kota Kudus. Memang, selama ini banyak peneliti, banyak penulis ingin mengungkap tempat lahir, tempat tinggal dan bahkan tempat pemakaman seorang pencipta kretek, namun belum juga sempurna. Dalam perjalanan riset mereka, hanya mendapatkan beberapa petunjuk dan itupun minim sekali yang akhirnya terjadi kebuntuan informasi. Keadaan tersebut dapat dicermati dan dibaca dari beberapa tulisan yang tertuang dalam buku mereka. <\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh besar di lingkungan keluarga pedagang. Dari beberapa informasi nama ayahnya Mirkam atau Abdul Shomad, putra pedagang kain dan batik. Ibunya bernama Aisyah, juga dari kalangan pedagang kain. Selain berdagang kain dan batik, keluarga Abdul Somad banyak memiliki usaha, seperti pembuatan sandal dan sabuk dari bahan kulit juga mempunyai perusahaan kerupuk rambak. <\/p>\n\n\n\n Tak hanya itu, keluarga Abdul Shomad juga mempunyai usaha rumahan berupa konveksi pakaian. Jadi wajar jika Abdul Shomad sendiri sering keliling kota, seperti ke Cirebon, Solo, Tasikmalaya dan kota-kota lainnya untuk berdagang memasarkan produksinya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: \u00a0Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual Tembakau<\/a><\/p>\n\n\n\n Keadaan ini, memberikan informasi bahwa sebelum rokok kretek muncul, terlebih dahulu terdapat perdagangan kain konveksi. Konon, orang-orang Kudus belajar membuat konveksi pakain dari kota batu Malang. Hingga dahulu di kota Malang ada jalan yang dinamakan jalan Kudus. Karena disitu banyak orang-orang Kudus yang sedang belajar konveksi. Usaha dan perdagangan konveksi mulai redup setelah penjajah mengebiri sistem perekonomian yang memperkuat pribumi.<\/p>\n\n\n\n Hal yang dilakukan penjajah tersebut, ternyata tidak hanya di kota Malang dan Kudus, seluruh Nusantara pun diperlakukan penjajah demikian. Hanya ada satu perdagangan yang masih tetap selamat dari perlakukan penjajah tersebut tak lain hanyalah perdagangan tembakau dan rokok. Satu-satunya perdagangan terbesar di Nusantara hanya ada di Kota Kudus. <\/p>\n\n\n\n Kota Kudus menjadi cikal bakal perdagangan rokok kretek. Cerita yang beredar di masyarakat, jauh sebelum munculnya rokok kretek tahun 1870, di depan Masjid al-Aqsho Menara Kudus terdapat pasar yang sekarang menjadi taman, sebelum menjadi taman masyarakat Kudus mengenalnya dengan sebutan \u201cpasar bubar\u201d, di pasar itulah dahulu banyak terdapat kios-kios menjual tembakau. Selain itu di sepanjang jalan Menara kios-kios pinggir jalan raya di sekitar pasar dan di selatan Masjid Menara, juga banyak yang menjual tembakau. Hal ini juga telah di Ceritakan KH. Sya\u2019roni Ahmadi Kiai, Tokoh serta Ulama\u2019 Kudus, bahwa masa kecilnya ia membantu bapaknya menjual tembakau dengan sewa kios di pinggir jalan selatan Masjid Menara Kudus. <\/p>\n\n\n\n Sebutan pasar bubar tersebut terjadi setelah pasar tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Diceritakan dahulu pasar tersebut menjadi pusat perdagangan tembakau, bahkan di hari tertentu dalam 1 bulan sekali, pasar tersebut menjadi tujuan para pedagang tembakau dari kota lain bahkan Negara lain. <\/p>\n\n\n\n Ini menjadi bukti bahwa perdagangan tembakau di Kudus sebagai warisan nenek moyang, bahkan diyakini masyarakat Kudus sebagai warisan perdagangan zaman kewalian Kangjeng Sunan Kudus. Dan mungkin inilah sejatinya perdagangan yang mensukseskan umat Islam saat itu. Sehingga disaat bulan Haji, banyak orang-orang Kudus Kulon (penamaan wilayah di sekitar Menara Kudus) banyak yang berangkat ibadah Haji ke Tanah Suci Makkah, walaupun saat itu transportasi masih langka, sulit, lama dan memerlukan biaya yang begitu besar. <\/p>\n\n\n\n Terlihat bahwa orang-orang Kudus punya jiwa dagang, kreatif dan agamis, dan saat ini muncul istilah \u201cGUSJIGANG\u201d \u201cBagus, Ngaji\/Haji, Dagang\u201d. Bagus diartikan berakhlak baik, sopan santun, bahkan sampai cara berpakaian jika di pandang mata tampak bagus bagi yang memakainya. Ngaji\/ Haji dimaksud selain bagus, orang-orang Kudus pandai mengaji dan taat perintah agama dengan pergi Haji. Dagang, dimaknai, orang Kudus selain bagus bisa mengaji juga pandai berdagang. Sejarah inilah yang menjadikan Kudus sebagai kota industri, terutama yang terkenal industri rokok kretek.<\/p>\n\n\n\n Djamhari lahir dan tumbuh di kelilingi para sudagar. Walaupun keluarganya saat itu tidak berdagang tembakau, namun kehidupan Djamhari lebih dekat dengan tembakau. Apalagi setelah situasi banyak perdagangan mulai meredup akibat penjajahan. Jadi sangat wajar Djamhari dapat menciptakan rokok kretek. <\/p>\n\n\n\n Melalui kemampuan berinovasi, Djamhari akhirnya meramu bahan baku tembakau di campur dengan engkeh untuk mengobati sakitnya. Hal tersebut bukan tanpa sengaja, akan tetapi berkat pengetahuan Djamhari yang awalnya ia seorang pengkonsumsi tembakau. Saat sakit ia selalu mengoles minyak cengkeh ke tubuhnya, hingga terasa hangat dan enak badan. Dari pengalaman itulah Djamhari mencoba menambahkan tembakaunya dengan cengkeh. Saat itu cengkeh dengan mudah didapat di apotik. Percobaan dimulai pada dirinya sendiri. Setelah berhasil, ia pun membeberkan hasil ramuannya ke kerabat, tetangga dan temannya. Hingga suatu ketika hasil temuannya diakui banyak masyarakat. Selain untuk obat, ternyata rokok engkeh (kretek) hasil ramuan Djamhari terasa nikmat banyak orang yang suka, terlebih masyarakat menengah kebawah. Singkat cerita, temuan Djamhari menjadi industri besar yang didirikan Nitisemito dan tetap berjaya sampai sekarang.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Bikin Awet Muda dan Energik, Rahasia di Balik Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Rokok kretek bukan menjadi usaha Djamhari saat itu, karena ia telah berdagang kain warisan keluarganya. Rokok kretek ciptaannya dikonsumsi oleh masyarakat disekeliling Djamhari saja, itupun jika ada permintaan baru dibuatkan. Setelah masyarakat menikmati khasiatnya, permintaan makin hari selalu bertambah. Namun keadaan bicara lain, rokok kretek harus ditinggalkan tuannya, dikarenakan Djamhari harus berpindah tempat hingga sampai Cirebon, Tasikmalaya dan Singparna Jawa Barat. Ia masuk Sarikat Islam (SI) salah target yang di cari penjajah. Tercatat dalam SI pasar desa Prawoto kabupaten Pati sebagai pengurus.<\/p>\n\n\n\n Dahulu perdagangan tembakau terbesar dan munculnya rokok kretek hanya di Kudus Kulon di wilayah sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Sampai sekarang masih dapat terlihat banguan-bangunan peninggalan bekas gudang tembakau atau gudang sebagai industri rokok kretek. Bahkan jika ditelusuri kedalam rumah-rumah di sekitar Menara, banyak sekali barang-barang yang memberi isyarat tertuju pada rokok kretek, seperti ornamen kaca, ornamen candela, ornamen pintu yang bertuliskan nama rokok kretek jaman dulu. Tak hanya itu, jika dicermati motif ukir dalam rumah adat Kudus ada yang memakai kuncup bunga cengkeh. Disekitar Menara inilah besar kemungkinan Djamhari lahir dan tumbuh besar, dan disekitar Menara inilah rumah peninggalan Nitesemito masih berdiri. <\/p>\n\n\n\n Kudus Kulon atau sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus, dahulu selain pusat dakwah Kangjeng Sunan Kudus, juga sebgai pusat perdagangan tembakau, bahkan tempat munculnya kretek. Perdagangan tembakau dan usaha rokok kretek menjadi basis perekonomian masyarakat dan para Kiai \/Ulama\u2019 tempo dulu, sebagai warisan nenek moyang. Namun hikayat rokok kretek yang terkait peradaban Kudus Kulon jarang dijumpai pada tulisan, sedangkan hikayat cerita lisan keberadaan rokok kretek sangat lekat dengan budaya Kudus Kulon perkampungan di sekitar Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\n\n\n\n Dalam pengerjaan rumah, mereka biasanya menginap di tempat proyek atau di rumah yang sedang dikerjakan. Mereka biasanya dibayar harian serta fasilitas makan tiga kali sehari, gula, teh, dan kopi dari si empunya rumah. Untuk ongkos, tarif bagi tukang sebesar Rp 100 ribu\/hari dan asisten tukang sebesar Rp 80 ribu\/hari. Selain menjadi tukang, beberapa di antara mereka juga merawat ladang dan kebun. Wilayah Gemawang, dikenal sebagai wilayah perkebunan. Biasanya, mereka menanam jagung hingga kopi. Saat musim panen kopi tiba, mereka akan ijin pulang untuk merawat hasil panenan. Selain panen, mereka juga akan ijin pulang ketika ada hajatan atau berita duka di kampung mereka. Sebuah hubungan kultural pedesaan yang masih erat dan terus dirawat hingga kini. Heni, salah satu laden tukang usianya lebih kurang 23 tahun. Tugasnya mulai dari menyiapkan adukan pasir, mengambilkan alat, bahan, dan keperluan tukang. Sementara tukang bertugas mulai dari menghitung ukuran yang tepat, membagi tugas kerja, dan tentu saja, mengerjakan bangunan inti. Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Di Bangka ia ikut pamannya bekerja di tambang timah rakyat. Pekerjaan yang beresiko tinggi. Sebab, ia harus menyelam di kedalaman sekian meter hanya berbekal selang udara dari kapal. Kadang hasil baik, seringkali pulang tanpa hasil. Di dalam air, seringkali antar kelompok penambang saling berebut, kadang dengan cara yang buruk, memutus selang udara. Praktis tabungan yang ia kumpulkan saat menambang timah kian menipis. Ia lalu memutuskan pulang ke kampung Gemawang. \u201cMasih lumayan punya sisa tabungan 3 juta,\u201d pikirnya. Dari Bangka ia naik kapal jurusan Tanjung Emas, Semarang. Di atas kapal, ia berkenalan dengan tiga orang penumpang lain. Keempatnya lalu bersepakat untuk bermain kartu sebagai hiburan selama perjalanan. Tak ketinggalan, uang dipertaruhkan untuk menambah keseruan permainan. \u201cTerus menang, Hen?\u201d tanya saya penasaran.<\/p>\n\n\n\n \u201cDuite nyong habis,\u201d balasnya sambil tertawa lepas. \u201cUntung masih ada 350 ribu,\u201d tambahnya. Mungkin tahu tidak ada kepastian dalam perjudian, ia menyembunyikan 200 ribu di tas dan 150 di saku celana. \u201cYa masih lumayan, Hen,\u201d ujarku mencoba bersimpati. Tentu saja sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n \u201cIya. Sampai di Semarang terus nyong kecopetan, Tas sak sempak-sempake nyong ikut ilang,\u201d kali ini semua ikut tertawa. \u201cNyobain (tembakau) yang ini mas, lebih mantep,\u201d tawar mas Sugeng sembari menyodorkan tembakau yang saya taksir varian kemloko dengan rajangan halus. Kemloko, salah satu varian tembakau lokal khas Temanggung. Dibandingkan varietas Mantili, Kemloko mempunyai citarasa tebal dan ampek di ujung tenggorokan. Penggunaan cengkeh dalam komposisi lintingan juga bermanfaat untuk mengurangi rasa ampek itu. Sehingga, hisapan tembakau kemloko jadi lebih halus. Jam sudah menujuk pukul satu. Para mulai beranjak dari duduknya. Menyahut topi dan kaos buluk berwarna abu-abu berdebu.\u00a0<\/p>\n\n\n\n Kelompok antirokok selalu beralasan bahwa kebijakan batas produksi dan cukai rokok di Indonesia amatlah rumit. Mereka menginginkan agar produk kretek khususnya tidak memiliki banyak varian sehingga persoalan produksi dan tarif cukai kretek dibuat seragam. Barang tentu dari penggabungan ini nantinya akan mematikan industri kretek karena tarif cukainya menjadi mahal dengan satu hanya satu layer golongan. Antara industri kretek kecil dan besar tidak ada lagi perbedaan. Kelompok antirokok ini ingin menghilangkan kekhasan kretek yang memiliki banyak jenis dan varian produk. Saat ini kita masih bisa melihat produk-produk kretek dengan berbagai merek. Tapi jika wacana penggabungan ini diterapkan, maka masyarakat Indonesia tidak lagi bisa menikmati kretek dengan berbagai merek tersebut. Khazanah kretek lokal daerah perlahan-lahan akan menghilang. Antirokok tidak memperdulikan persoalan industri kretek yang terancam, mereka hanya melayani big bos mereka untuk mencapai target menaikkan tarif cukai setinggi-tingginya dan membatasi produksi kretek sekecil-kecilnya.<\/p>\n\n\n\n Baca: Matinya Kretek Akibat Simplifikasi Cukai dan Batasan Produksi<\/a><\/p>\n\n\n\n Kelompok kedua dibalik wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM adalah perusahaan rokok multinasional yang memproduksi rokok putih di Indonesia. Kelompok ini dimotori oleh Philip Morris cs (bos Sampoerna). Layer produksi maupun tarif cukai di Indonesia memang berbeda dari negara lain, tentu bukan tanpa alasan, pertama karena memang produk kretek kita sangat bervarian sehingga negara memiliki peran menjaga keotentikan kretek dengan membuat layer yang dapat mengakomodir berbagai varian kretek. Lalu apa urusannya dengan Philip Morris cs? Selama ini kretek selalu menguasai pangsa pasar rokok nasional hingga 90% sedangkan rokok putih hanya mendapatkan pangsa pasar 6 sampai 7%. Pangsa pasar yang kecil ini membuat rokok putih sulit berkembang, terlebih lagi dalam kebijakan layer tarif cukai, mereka dikenakan pungutan cukai yang lebih besar ketimbang kretek. Sulit berkembangnya rokok putih inilah yang kemudian mendorong Philip Morris cs untuk melancarkan terus-menerus wacana penggabungan produksi dan tarif cukai SKM-SPM. Jika wacana tersebut disahkan menjadi kebijakan, maka secara otomatis produksi rokok putih dapat digenjot karena bisa setara dengan batasan jumlah produksi kretek. Adapun pada persoalan tarif cukai, rokok putih akan diuntungkan dengan disamakannya besaran tarif cukai rokok putih dengan kretek. Mereka tak perlu lagi membayar cukai lebih besar dari kretek. Philip Morris cs yang notabene adalah perusahaan rokok multinasional tentu akan kegirangan, sebab mereka dapat mengembangkan rokok putih di Indonesia melalui intervensi kebijakan. Apalagi dengan modal tak terbatas dengan gampang mereka dapat melibas industri kretek nasional. Beberapa bulan ini, tetangga sedang merenovasi rumahnya. Para tukang, berjumlah lima orang, datang dari Gemawang, Temanggung. Selain membawa perlatan dan perkakas pertukangan, bekal yang selalu mereka bawa yakni tembakau.Di sela pekerjaan, mereka menata tembakau dan cengkeh lalu dilinting dengan kertas garet tebal. \u201cNglinting, Mas,\u201d Mas Sugeng, salah seorang tukang menawari saya. \u201cEnak pakai garet yang tipis, Mas,\u201d tukas Mas Dodo, tukang yang lain sembari menaburkan cengkeh di atas tembakau. Saya pun ikut serta prosesi melinting bersama para tukang, sambil ngobrol \u201cngalor-ngidul\u201d. Dari situ saya tahu bahwa para tukang ini dalam satu rombongan sering mengerjakan beberapa proyek pembangunan rumah di Yogyakarta. Ketika salah satu di antara mereka mendapatkan proyek pengerjaan rumah atau bangunan lain, mereka akan mengontak satu sama lain. Biasanya, untuk satu rumah dikerjakan oleh dua hingga tiga orang tukang dan dua laden (asisten tukang).<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n","post_title":"Dinasti Kerajaan Rokok Kretek yang Terlupakan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dinasti-kerajaan-rokok-kretek-yang-terlupakan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-02 10:43:14","post_modified_gmt":"2019-10-02 03:43:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6114","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":23},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
Sejak lulus SMP, Heni sudah melakoni banyak pekerjaan, mulai dari proyek bangunan, jualan ban bekas, jualan cilok hingga bekerja di pertambangan timah di Bangka. Jenis pekerjaan yang disebut terakhir ini, menjadi pekerjaan pertama Heni. Lulus SMP, dia menyusul bapak, ibu, dan pamannya ke Bangka. Dibekali alamat saudaranya di Bangka ia menyusul dari Gemawang.<\/p>\n\n\n\n
Dua tahun bekerja di pertambangan timah, ia lalu pindah ke proyek bangunan di sekitar Bangka. Bukannya untung malah buntung. Ia ikut kerja di proyek bangunan tanpa dibayar. \u201cHanya dikasih makan nasi sama sambal indof**d,\u201d kenangnya sambil tertawa.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Siapa yang Bermain Isu Penggabungan Batas Produksi dan Tarif Cukai Kretek-Rokok Putih?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"siapa-yang-bermain-isu-penggabungan-batas-produksi-dan-tarif-cukai-kretek-rokok-putih","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-10-29 07:41:34","post_modified_gmt":"2019-10-29 00:41:34","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6184","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":6128,"post_author":"925","post_date":"2019-10-08 08:12:24","post_date_gmt":"2019-10-08 01:12:24","post_content":"\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n\n\n\n