Panen Cengkeh Tahun Ini Kembali Normal

Juli tahun lalu, bertepatan dengan musim panen cengkeh, selama sebulan penuh saya berkunjung ke desa-desa penghasil cengkeh di utara pulau Bali. Empat desa di Kabupaten Buleleng dan tiga desa di Kabupaten Tabanan menjadi lokasi yang saya kunjungi. Desa Munduk menjadi tempat tinggal saya dan rekan-rekan. Munduk menjadi titik tolak kami berkeliling mengunjungi desa-desa lainnya untuk memantau panen cengkeh di Bali. Di Desa Munduk pula titik utama kami memantau perkembangan perkebunan cengkeh. Masyarakat Bali memang mengenal Desa Munduk sebagai desa yang sejahtera karena perkebunan cengkeh milik warganya.

Dari tujuh desa yang saya kunjungi, seluruh perkebunan cengkeh mengalami penurunan panen. Panen cengkeh anjlok. Secara keseluruhan hasil panen tahun lalu kurang dari sepuluh persen hasil panen di musim panen sebelumnya, musim panen raya. Beberapa petani cengkeh yang saya temui bercerita bahwa pohon cengkehnya tidak berbunga sama sekali di musim panen 2017. Panen dianggap gagal.

Faktor cuaca menjadi penyebab utama kegagalan panen cengkeh tahun lalu. Hujan sepanjang tahun menyebabkan bakal bunga cengkeh tidak muncul, ia berganti menjadi daun-daun baru di ujung dahan pohon cengkeh. Hanya sedikit saja bunga cengkeh yang menjadi, siap dipanen, kurang dari lima persen dari musim panen sebelumnya.

Pohon cengkeh jelas membutuhkan air, biasanya pada musim penghujan sumber air untuk pohon cengkeh didapat. Di akhir masa itu pula bakal-bakal bunga muncul untuk kemudian berkembang hingga siap dipanen enam bulan kemudian. Ketika bakal bunga bermunculan, di titik inilah cuaca begitu menentukan. Hujan yang berlebihan—seperti tahun lalu—menyebabkan bakal bunga batal menjadi bunga cengkeh yang bisa dipanen. Ia berubah menjadi pucuk-pucuk daun baru.

Baru-baru ini, saya menghubungi dua Komang yang merupakan petani cengkeh di Bali. Komang Armada di Desa Munduk, Buleleng, dan Komang Wawan di Desa Pujungan, Tabanan. Tujuannya tentu saja untuk bertanya bagaimana kondisi panen cengkeh tahun ini. Untuk komoditas cengkeh, enam bulan sebelum musim panen tiba memang sudah bisa diprediksi hasil panennya.

Baik Komang Armada maupun Komang Wawan sama-sama mengabarkan berita baik. Menurut mereka musim panen tahun ini jauh meningkat dibanding tahun lalu, meskipun tidak sebaik ketika panen raya tiba. Menurut mereka, tahun ini pohon-pohon cengkeh akan menghasilkan 70 persen bunga cengkeh dari angka puncak panen ketika panen raya. Jauh lebih baik dibanding tahun lalu yang kurang dari lima persen.

“Untuk desa banjar atas (Munduk, Gobleg, Gesing, Kayu Putih dan Umejero), panen tahun ini di kisaran 70%. Untuk daerah lain yang sempat bli dengar, seperti Asah Duren (Kab. Jembrana), Pujungan (Kab. Tabanan), Tajun (Kab Buleleng berbatasan dengan Kab. Bangli) bli dengar di kisaran 40-50%.” Tulis Komang Armada melalui pesan whatsapp.

I Ketut Budiman, Sekjen Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), memperkirakan hasil panen cengkeh nasional tahun ini akan kembali normal. Ia memprediksi hasil panen cengkeh nasional tahun ini berada pada angka 110.000 hingga 120.000 ton. Sedangkan panen cengkeh nasional tahun lalu kurang dari 15.000 ton, atau kurang dari 15 persen hasil normal tahunan.

Saat ini cengkeh tumbuh hampir di tiap provinsi di Indonesia dengan Sulawesi Selatan menjadi provinsi penghasil cengkeh terbesar di Indonesia. Dari keseluruhan hasil cengkeh nasional, lebih dari 94 persen diserap industri rokok kretek. Ini menjadi kabar menggembirakan sekaligus riskan bagi para petani cengkeh. Serapan yang sangat tinggi dari industri rokok kretek nasional tentu saja membikin perekonomian nasional bergeliat, dan memberi jaminan bahwa hasil panen petani bisa diserap dengan baik. Namun ini juga sangat riskan karena jika industri rokok kretek goyah, hasil panen petani terancam tidak bisa diserap. Tentu saja ini akan merugikan petani cengkeh. Pada titik ini peran pemerintah menjadi sangat vital. Mereka harus menjamin sekaligus melindungi keberlangsungan industri rokok kretek di Indonesia.

Kabar gembira panen cengkeh tahun ini dibarengi dengan kabar mengkhawatirkan terkait tidak maksimalnya panen cengkeh tahun ini. Menurut Komang Armada, di desa-desa penghasil cengkeh di Bali, kemungkinan besar panen akan berlangsung bersamaan, tidak seperti sebelumnya yang memiliki rentang waktu panen bervariasi sesuai lokasi dan ketinggian wilayah perkebunan. Masa panen yang bersamaan menyebabkan tenaga kerja pemetik cengkeh akan sulit didapat. Para pemilik kebun akan berebut tenaga pemetik agar bisa memanen cengkeh mereka. Karena, ketika sudah memasuki musim panen, waktu maksimal untuk mendapat bunga terbaik hanya sepanjang 15 hari. Jika lebih dari 15 hari baru dipanen, kualitas cengkeh akan menurun.

Di masa panen sebelumnya, waktu panen yang berbeda menyebabkan tenaga pemetik bisa berpindah-pindah lokasi sesuai dengan wilayah yang sudah masuk masa panen. Tahun itu, kondisi ini sulit terjadi. Tenaga pemetik akan terkonsentrasi di satu titik perkebunan hingga menyebabkan banyak wilayah lain kekurangan tenaga pemetik.

Cengkeh, menjadi satu dari delapan komoditas unggulan nasional. Lewat perkebunan cengkeh, hingga industri yang menggunakan cengkeh sebagai bahan bakunya, roda perekonomian jutaan warga Indonesia laju berputar. Sebagai penikmat kretek, tentu saja kita berharap agar komoditas cengkeh terus berjaya dan menyejahterakan petani, dan para pekerja di industri kretek. Salah satu cara paling ampuh untuk turut serta, tentu saja dengan terus membeli produk-produk kretek.

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun
mm

Pecinta kretek, saat ini aktif di Sokola Rimba, Ketua Jaringan Relawan Indonesia untuk Keadilan (JARIK)

ARTIKEL TERKAIT

Benarkah Harga Murah Rokok Sebabkan Anak Kecil Merokok?

Setelah survei yang dikeluarkan oleh Komisi Nasional Pengendalian Tembakau dan Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) merilis hasil survei…

Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa

Kita seringkali melontarkan pernyataan “Bangsa ini harus mandiri dan berdaulat” dengan berbagai argumentasi dan konsep. Tapi kita seringkali lupa bahwa…

Alasan Pemerintah Melawan Aturan Kemasan Polos Rokok Sudah Benar

FCTC (Framework Convention on Tobacco Control) membawa dampak buruk bagi negara-negara yang memiliki kepentingan terhadap industri hasil tembakau. Salah satunya…

Rokok: Menimbang Antara Isu Kesehatan dan Kedaulatan Nasional

Di Indonesia, permasalahan rokok merupakan perdebatan panjang menyangkut mau dikemanakan isu ini sebenarnya. Karena bagaimanapun berbagai pendapat mempunyai alur argumentasi…