Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n
Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n
Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n
Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n
Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n
Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n
Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n
Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n
Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n
Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n
Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n
Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n \u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\nCerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n
Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n