\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pada mulanya, saya mengira tanaman tembakau ditanam, dirawat, dan dipanen sama dengan kebanyakan tanaman-tanaman semusim lainnya di negeri ini. Ada proses pembibitan, kemudian proses penanaman, lantas tanaman rutin disiram dan diberi pupuk, ada proses perawatan hingga akhirnya dipanen ketika musim panen tiba. Tapi nyatanya, perkiraan saya salah. Tembakau tanaman yang cukup unik. Beda dari banyak tanaman semusim lain yang lazim ditanam petani di banyak tempat di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Hal paling menonjol yang membedakan tanaman tembakau dengan tanaman semusim lain ada pada masa tanam dan masa panen tiba. Tanaman tembakau menjadi anomali karena ditanam saat musim penghujan akan berakhir. Lalu dipanen ketika musim kemarau sedang berada pada puncaknya. Saat tanaman-tanaman semusim lainnya enggan tumbuh, bahkan rumput sekalipun mengering karena kemarau.<\/p>\n\n\n\n

Tiga tahun belakangan, saya banyak bergaul dengan petani dan buruh tani tembakau di Kabupaten Temanggung, juga dengan anak-anak mereka. Jika sebelumnya saya sekadar penikmat rokok kretek, tiga tahun belakangan, saya mulai tertarik untuk mempelajari seluk-beluk seluruh lini yang mendukung industri kretek nasional. Yang paling menarik minat saya, tentu saja konteks pertanian dan sosial masyarakat yang memproduksi komoditas yang menjadi bahan baku utama produk kretek. Tembakau dan cengkeh.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka<\/a><\/p>\n\n\n\n

Dari sekian banyak hal menarik yang disajikan pertanian tembakau hingga proses penjualan hasil panen tembakau yang saya amati di wilayah Kabupaten Temanggung, hal yang terus menerus menarik minat saya dan hingga saat ini belum sepenuhnya saya pahami adalah proses panen tembakau dan penentuan grade tembakau hasil panenan petani. Sama seperti kesalahan saya mengira tanaman tembakau ditanam dan diproses mirip dengan tanaman semusim lainnya, dugaan saya perihal proses panen tembakau juga salah sepenuhnya. Dahulu saya mengira daun-daun yang siap dipanen dari tanaman tembakau ya dipanen begitu saja. Menunggu daun-daun yang tumbuh pada tanaman tembakau siap dipanen, lantas dipanen seluruhnya dalam satu waktu oleh para pekerja di kebun. Nyatanya tidak begitu. Dan lebih rumit dari itu.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas tembakau yang ditanam di wilayah Temanggung berasal dari jenis kemloko. Ada kemloko 1, kemloko 2, dan kemloko 3. Dari ketiga varietas kemloko tersebut, metode panen dan penentuan grade tembakau memiliki tata cara yang sama persis. Seluruh petani di Temanggung menerapkan metode panen yang mirip. Dari metode panen tersebut, ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas tembakau yang dipanen, petani di Temanggung kerap menyebut \u2018tiam\u2019 atau \u2018grade\u2019 untuk perbedaan tingkat kualitas tembakau yang dipanen.<\/p>\n\n\n\n

Tidak seperti tanaman semusim lainnya yang dipanen dalam satu waktu, tembakau dipanen bertahap mulai dari daun terbawah pada pohon hingga daun teratas. Dalam satu tanaman tembakau, panen bisa berlangsung sebanyak 13 hingga 15 kali dalam sekali musim tembakau. Jarak antara panen satu dengan panen lainnya, antara lima dan tujuh hari. Dengan kondisi ini, musim panen tembakau di Temanggung atau yang kerap disebut musim \u2018mbakon\u2019 bisa berlangsung selama dua hingga tiga bulan. Tahun ini, panen dimulai pada pertengahan Juli dan diprediksi akan berakhir pada pertengahan Oktober.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a><\/p>\n\n\n\n

Metode panen seperti itu, yang bertahap dan berjeda dari panen satu daun ke daun lainnya ternyata berpengaruh terhadap tingkatan kualitas daun tembakau. Daun-daun yang dipanen lebih awal, gradenya berada pada grade yang rendah. Grade terus meningkat hingga sampai puncaknya seiring panen-panen selanjutnya pada tanaman yang sama. Dalam satu tanaman tembakau, grade daun sudah pasti berbeda-beda sesuai dengan waktu panenan daun di tanaman tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Agar lebih mudah dipahami, mari kita bayangkan sebatang tanaman tembakau yang tumbuh subur dalam kondisi normal dan tanaman itu sudah mulai memasuki masa panen. Pada sebatang tanaman tembakau itu tumbuh sebanyak 17 helai daun dari bawah ke atas. Panen pertama dimulai. Daun paling bawah dari tanaman tembakau itu dipetik untuk dipanen. Hanya satu helai daun saja, yang terbawah. Daun yang pertama dipanen itu, biasanya memiliki grade A. Adakalanya kualitas tembakau pada panenan pertama sudah mulai berada pada grade B. Di beberapa titik bahkan sudah ada yang menghasilkan tembakau grade C. <\/p>\n\n\n\n

Lima hingga tujuh hari kemudian, panen daun kedua dilakukan. Satu daun saja dari sebatang tanaman, daun terbawah yang dipanen. Lima hingga tujuh hari berikutnya lantas dipanen lagi. Begitu seterusnya hingga 12 atau 13 kali panen. Semakin ke atas daun yang dipanen seiring bertambahnya waktu, grade tembakau juga meningkat hingga puncaknya berhenti di grade F. Hanya sedikit tembakau yang bisa melampau grade F, mencapai grade G dan H, itulah tembakau-tembakau jenis srintil berharga jutaan rupiah per kilogramnya.<\/p>\n\n\n\n

Selain waktu panen dan letak daun dalam sebatang tanaman, jenis tanah, unsur hara yang terkandung dalam tanah, asupan embun alami, pancaran sinar matahari yang cukup, serta proses fermentasi dan penjemuran usai daun-daun dipanen, menjadi penentu kualitas tembakau yang menempatkan daun tembakau itu pada grade tertentu. Satu hal lain lagi yang sangat berpengaruh terhadap grade tembakau adalah wilayah tembakau itu ditanam. Ada tiga wilayah tempat tembakau biasa ditanam. Wilayah persawahan (dataran rendah), wilayah tegalan (dataran menengah), dan wilayah gunung (dataran tinggi). Kondisi tanah dan faktor ketinggian dan kondisi geografis lainnya berpengaruh terhadap kualitas tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Di wilayah persawahan, tanaman tembakau memang subur dan tumbuh cepat, namun tembakau yang ditanam di sana maksimal hanya bisa menghasilkan tembakau grade D, atau D+. Sedang tembakau yang ditanam di wilayah tegalan, maksimal bisa menghasilkan tembakau grade E hingga E+. Yang terbaik, tentu saja tembakau yang ditanam di wilayah gunung. Meskipun membutuhkan waktu tanam lebih lama dibanding dua wilayah lainnya, rata-rata panenan terakhir mencapai grade F hingga seterusnya dengan tembakau terbaik bernama srintil.   <\/p>\n\n\n\n

Ini sedikit yang saya pelajari di Temanggung hasil belajar langsung dari para petani di sana. Saya tidak tahu dengan metode panen dan penentuan grade tembakau di wilayah lain dengan jenis tembakau lain juga. Menarik sebetulnya mencari tahu di tempat lain. Semoga sekali waktu nanti berkesempatan untuk itu. 
<\/p>\n","post_title":"Penentuan Grade Tembakau di Temanggung","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"penentuan-grade-tembakau-di-temanggung","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-30 15:06:14","post_modified_gmt":"2019-08-30 08:06:14","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=6008","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5999,"post_author":"877","post_date":"2019-08-28 09:40:02","post_date_gmt":"2019-08-28 02:40:02","post_content":"\n

Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC), Robert Redfield, mengungkapkan kematian tragis di Illinois memperkuat dugaan karena vape<\/a> atau rokok elektrik. Berita tersebut atas laporan Dinas Kesehatan Illinois yang mengumumkan ada satu pasien yang akhirnya meninggal dunia. Kasus ini kemungkinan jadi kasus pertama kematian akibat penyakit berkaitan dengan vape.
<\/p>\n\n\n\n

Kejadian di atas menjawab keberadaan vape atau rokok elektrik sangat membahayakan. Berbeda dengan resiko rokok kretek, bisa menimbulkan penyakit jika mengkonsumsinya berlebihan atau kebanyakakan, dan hidup tidak seimbang. Misalnya dalam satu hari merokok sampai tiga atau empat bungkus, tanpa makan nasi atau makan-makanan sehat, tanpa olah raga, tanpa minum air putih, selalu didampingi kopi atau teh, istirahatnya kurang dan sebagainya. Maka dipastikan orang tersebut akan jatuh sakit bahkan meninggal dunia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Terkuak, Rokok Elektrik Berbahaya bagi Kesehatan<\/a><\/p>\n\n\n\n

Tidak hanya itu, otoritas kesehatan di Amerika Serikat telah berhasil menginvestigasi kemunculan penyakit paru-paru misterius di antara kalangan pengguna rokok elektrik atau vape. Dilaporkan setidaknya ada 195 kasus potensial penyakit paru-paru di 22 Negara karena kena dampak dari vape atau rokok elektrik.
<\/p>\n\n\n\n

Jadi, masyarakat perlu waspada beredarnya vape atau rokok elektrik. Belum lagi, sebetulnya rokok elektrik atau vape, berdampak juga peningkatan perokok anak.\u00a0 Yang menjadi daya tarik bagi anak, selain bentuknya yang elegan, simpel, juga beraroma buah-buahan yang terkemas dalam cairan.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Orang yang mengatakan bahwa vape atau rokok elektrik lebih mensehatkan dari pada rokok kretek, pendapat tersebut sangat keliru. Disampaing efek dari rangkaian listrik dan battre juga cairan dalam rokok elektrik berpengaruh terhadap resiko jantung.  <\/p>\n\n\n\n

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American College of Cardiology pada Mei lalu ini menambah bukti bahwa cairan rokok elektrik dapat menghambat fungsi sel-sel tubuh yang berperan dalam kesehatan jantung. Cairan dalam vape atau rokok elektrik pada akhirnya merusak sel-sel yang melapisi pembuluh darah. <\/p>\n\n\n\n

Keberadaan vape atau rokok elektrik di pasaran sangat membahayakan bagi orang Indonesia, terlebih pemuda-pemuda, yang banyak memilih merokok vape aatau rokok elektri. Menurutnya, selain bentuk kecil, simpel dibawa dan ada aroma buah-buahan sesuai selera. Akan tetapi dibalik bentuknya yang bagus, menyembunyikan banyak penyakit ketika dikonsumsi.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kata Siapa Lebih Sehat? Perokok Elektrik Berisiko Terjangkit Penyakit Kardiovaskular<\/a><\/p>\n\n\n\n

Hingga kini CDC masih melakukan investigasi lebih lanjut, dengan mengimbau agar para dokter mengumpulkan data dan sampel bila menemukan pasien dengan gejala penyakit paru serupa, tentunya akibat rokok elektrik atau vape. Bentuk dan merek rokok elektrik dan vape banyak varian dan banyak merek. JUUL termasuk merek rokok elektrik atau vape yang saat ini naik daun.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Ada yang mengatakan bahwa tak tepat membandingkan rokok tembakau dengan rokok elektrik. Ya benar tak tepat, karena rokok elektrik atau vape resikonya sangat tinggi. Sedang rokok tembakau resikonya kecil, apa lagi rokok kretek mungkin resikonya sangat kecil sekali terhadap tubuh. Alasannya, munculnya rokok kretek bertujuan untuk pengobatan sakit bengek, dan tujuannya berhasil. Hingga banyak orang melakukan pemesanan rokok kretek saat itu, rokok kretek belum sebagai industri besar masih bersifat rumahan,  keadaan tersebut sekitar abad 19. <\/p>\n\n\n\n

Dalam studi ini, tim peneliti menemukan bukti efek toksik pada sel-sel yang melapisi pembuluh darah dan melindungi jantung. Beberapa bukti tersebut termasuk di antaranya gangguan pada fungsi sel dan munculnya tanda-tanda peradangan. Para peneliti mengamati bagaimana respons sel saat bersentuhan dengan cairan rokok elektrik. Efek yang paling kentara terlihat pada cairan dengan rasa kayu manis.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Riset Kesehatan Rokok Elektrik<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekelompok ahli kardiovaskular dari University of Massachusetts menganjurkan peneliti agar melakukan uji rokok elektrik atau vape lebih yang beraroma. Karena sumsi sementara, produk vape atau rokok elektrik yang beraroma dan punya pilihan rasa lebih berbahaya dari pada rokok vape natural. Namun yang banyak beredar dipasaran, justru yang beraroma dan berasa buah-buahan, dari pada yang natural. <\/p>\n\n\n\n

Studi pada 2018 lalu menunjukkan, penggunaan rokok elektrik harian berisiko terhadap serangan jantung, meski dengan probabilitas yang lebih rendah daripada perokok tembakau. Menurut dr Lawrence Phillips pakar kardiovaskular NYU Langone Health mengatakan \u201cKita melihat semakin banyak bukti bahwa rokok elektrik berhubungan dengan peningkatan risiko serangan jantung\u201d.<\/p>\n\n\n\n

Dari hasil pakar dan hasil studi di atas menegaskan bahwa keberadaan rokok vape atau rokok elektrik, resikonya sangat besar. Bahan utama rokok vape atau elektrik yang paling besar memberikan efek negatif pada tubuh manusia adalah cairan perasa. Akibat cairan perasa dalam rokok elektrik  atau vape termasuk merek JUUL beresiko terjadi peradangan, terjangkit penyakit jantung dan paru-paru akut, selanjutnya berakibat kematian. <\/p>\n\n\n\n

Untuk itu, demi masa depan bangsa Indonesia harusnya ada regulasi pelarangan peredaran rokok elektrik atau vape yang nyata-nyata telah ada kasus dengan didukung beberapa riset dan studi tentang konten rokok elektrik atau vape, yang hasilnya mempunyai resiko tinggi dapat menyebabkan penyakit berujung kematian.         
<\/p>\n","post_title":"Perokok Elektrik Berisiko Besar Terjangkit Penyakit Mematikan","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"perokok-elektrik-berisiko-besar-terjangkit-penyakit-mematikan","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-28 09:40:09","post_modified_gmt":"2019-08-28 02:40:09","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5999","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5988,"post_author":"855","post_date":"2019-08-24 10:41:28","post_date_gmt":"2019-08-24 03:41:28","post_content":"\n

Sumber permasalahan besar dunia pertembakauan sejatinya bukan iklim dan hama, melainkan kebijakan pemerintah dan para plolitisi yang ikut serta membicarakannya, tanpa dasar yang kuat, adil dan cenderung ugal-ugalan.
<\/p>\n\n\n\n

Jika orang dahulu tidak berani bicara kecuali kepada hal-hal yang benar-benar diketahui, kali ini banyak sekali orang yang banyak bicara daripada membaca, baik buku maupun alam kauniyah (dunia nyata). Maka jangan heran, jika tidak sedikit politisi dan pemerintah yang gagal paham dunia pertembakau, dari berbagai sisi, karena mereka mendapatkan informasi sepotong-sepotong, tanpa ada usaha untuk tabayyun <\/em>lebih mendalam apalagi turun ke ladang untuk memastikan.
<\/p>\n\n\n\n

Kini hama petani muncul lagi dari kalangan politisi. Sebut saja namanya Sukamta (nama asli) yang kini menjabat sebagai sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kenapa semua orang yang terkait dengan industri hasil tembakau (petani, buruh, dsb) dianggap tidak sejahtera, ya karena partai yang harusnya adil saja tidak mampu berbuat adil, bahkan dalam pikiran dan apa yang keluar dari mulutnya.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tuhan Tidak Menciptakan Tembakau untuk Dibenci dan Dicaci<\/a>
<\/p>\n\n\n\n

Tidak perlu bicara terlalu jauh. Mari kita kita uji omongan Sukamta yang dimuat situs ayosemarang.com, 22 Agustus 2019. Omongan yang sejatinya sebuah template dan selalu dipakai oleh antirokok. Semacam gaya kampanye sholih li kulli zaman wal makan, <\/em>meski dibangun dari logika berantakan dan cenderung mengutamakan kengawuran daripada analisa yang mendalam. Ya memang itulah keistimewaan antirokok, anti terhadap data valid dan percaya diri berlebihan dalam kesesatan berpikir.
<\/p>\n\n\n\n

Bagi Sukamta, harga rokok di Indonesia, sebuah negeri yang besar salah satunya ditopang oleh dunia pertembakauan, harus dinaikkan 700 persen. Alasannya supaya orang miskin tidak dapat membeli rokok. Jika orang miskin yang merokok jatuh sakit, maka negara melalui (Jaminan Kesehatan Nasional) JKN rugi menanggung biayanya. Tentu saja ini berbeda dengan, orang kaya boleh makan junkfood<\/em>, minuman bersoda, dan berlaku semaunya, karena jika jatuh sakit mereka bisa membiayai sendiri dan dapat memperkaya negara.
<\/p>\n\n\n\n

Cara sistematis ini akan diduplikasi dan diperbarui terus menerus. Bermula dari seorang sakit yang berobat ke dokter, jika ia merokok maka dokter akan berkata, \u201cbapak sakit karena rokok\u201d, dan dokter tidak secara jujur bahwa penyakit itu datang dari sebab apapun, bisa gula, bisa gaya hidup yang berantakan, kurang minum air putih, stres dengan obat mahal, dsb.
<\/p>\n\n\n\n

Kenapa Sukamta cenderung ingin menaikkan harga rokok untuk menyelesaikan permasalahan JKN yang rumit itu? Ya karena sudah menjadi tabiat antirokok, bahwa berpikir keras untuk mencari solusi adalah buang-buang waktu, makanya rokok akan disalahkan supaya permasalahan menjadi lekas selesai. 
<\/p>\n\n\n\n

Coba kita kembali ke tahun 2018, saat BPJS Kesehatan defisit dan ditambal oleh cukai rokok. Para pegiat kesehatan beralasan, jumlah masyarakat sakit yang kian bertambah dan narasi yang kemudian dibangun; sakit-sakit itu disebabkan oleh rokok. Tidak berhenti sampai di situ, beragam alasan yang penting pengelola kesehatan \u201cselamat\u201d banyak digaungkan di media (tanpa ada sikap ksatria untuk mengakui bahwa memang masih banyak masalah dalam JKN, baik pengelolaan maupun skema yang lebih baik, yang perlu dicarikan solusi).<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kegagalan Lakpesdam PBNU dalam Melihat Produk Tembakau Alternatif<\/a><\/p>\n\n\n\n

Koordinator Advokasi BPJS Watch, Timboel Siregar, megkritisi beragam narasi yang dibangun oleh pegiat kesehatan. Ia mengusulkan agar BPJS fokus pada pengawasan penetapan inasibijis oleh pihak rumah sakit. Timboel menilai, inasibijis merupakan gerbang terjadinya defisit BPJS Kesehatan. Inasibijis (INA-CGB) merupakan sebuah singkatan dari Indonesia Case Base Gropus, yakni sebuah aplikasi yang digunakan rumah sakit untuk mengajukan klaim pada pemerintah. (bisnis.com)
<\/p>\n\n\n\n

Kita tidak pernah tau, apa yang dilakukan rumah sakit terhadap pasien-pasien yang membayar BPJS. Kita juga tidak pernah tau jika ada pasien BPJS kelas I diberi fasilitas kelas II atau III, dan rumah sakit mengklaim biaya kelas I ke negara. Tentu saja yang demikian ini tidak penting bagi antirokok. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ada Campur Tangan Bloomberg dalam Surat Edaran Menkes terkait Pemblokiran Iklan Rokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga bilang, orang-orang yang kecanduan merokok dan mampu membeli rokok yang mahal, dipersilahkan tetap merokok asal menanggung sendiri biaya pengobatan akibat penyakit karena rokok. Asalkan dampak buruk akibat konsumsi rokok tidak membebani negara kerena pemasukan dari cukai tembakau tidak sebanding dengan biaya yang harus dikeluarkan negara. (ayosemarang.com)
<\/p>\n\n\n\n

Bagi saya pribadi, ini adalah statemen yang sangat lucu. Sejak kapan sih negara betul-betul hadir dan perhatian terhadap kesehatan masyarakat, khususnya di pedesaan dan pedalaman? Kalau ada pun, menjalankannya setengah hati. Dan sejak kapan rokok itu menjadi candu, padahal yang candu itu kekuasaan dan menjadikan masyarakat sebagai jembatan untuk menuju \u201ckekuasaan dalam negara\u201d? 
<\/p>\n\n\n\n

Sukamta juga menganggap, bahwa perokok bukan orang yang produktif? Faktanya? Setahu saya orang-orang yang merokok punya produtivitas tinggi, mereka hidup sebagaimana keringat yang diperas setiap hari. Tanpa berharap kepada negara apalagi Sukamta.
<\/p>\n\n\n\n

Sekadar saran saja, sebaiknya PKS tidak perlu ngelantur bicara rokok. Silahkan bicara, asalkan keadilan sosial sebagaimana nama partainya tidak hanya selesai pada tataran konsepsi dan gagah-gagahan, melainkan pada tahap tindakan dan contoh konkrit atasnya.
<\/p>\n","post_title":"Ketika PKS Bicara Rokok","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ketika-pks-bicara-rokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-24 10:51:25","post_modified_gmt":"2019-08-24 03:51:25","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5988","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5984,"post_author":"878","post_date":"2019-08-23 11:24:54","post_date_gmt":"2019-08-23 04:24:54","post_content":"\n

Sebagai anak yang lahir hingga lulus SMA tinggal menetap di Jakarta, ingatan saya tentang perkebunan homogen yang cukup luas sangat terbatas. Masa kecil hingga remaja saya habiskan dengan menumpuk memori tentang gedung-gedung tinggi, bangunan-bangunan beton, dan kepadatan suasana kota yang jauh dari suasana pemandangan hijau yang menyejukkan mata. <\/p>\n\n\n\n

Seingat saya, memori tentang perkebunan homogen skala luas saya dapat ketika berlibur ke daerah Puncak, Bogor. Saya melihat perkebunan teh pada kontur pegunungan dan perkebunan cemara di beberapa tempat sebelum akhirnya saya tiba di lokasi wisata Cibodas. Di luar itu, paling sesekali saya melihat sawah yang ditumbuhi padi ketika saya diajak jalan-jalan ke daerah Kuningan dan Cirebon oleh orang tua saya.<\/p>\n\n\n\n

Referensi tentang perkebunan homogen skala luas baru bisa saya perkaya usai saya meninggalkan Jakarta setelah lulus SMA dan melanjutkan kuliah di bagian utara Yogyakarta. Saya menemukan sawah yang ditanami padi di banyak tempat, kebun-kebun buah naga, dan perkebunan cengkeh yang cukup terbatas.\u00a0<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Adalah Takdir Desa Kami<\/a><\/p>\n\n\n\n

Referensi itu semakin kaya ketika saya pada akhirnya menggemari olahraga mendaki gunung dan mesti pergi ke desa-desa yang cukup jauh di kaki-kaki gunung yang saya daki. Di sana, saya bisa melihat banyak perkebunan lainnya yang dikelola dengan penuh dedikasi oleh para petani. Salah satu perkebunan yang saya lihat tumbuh dan dirawat dengan begitu baik di kaki-kaki gunung adalah perkebunan tembakau. Di kaki Gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, Merbabu, dan beberapa gunung lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.<\/p>\n\n\n\n

Entah mengapa, saat melihat perkebunan, juga hutan, saya merasakan ketenangan merasuk ke dalam diri saya. Saya sulit menjelaskan apa yang menyebabkan itu semua bisa terjadi. Saya menduga, bisa jadi karena pengalaman masa kecil dan remaja saya yang begitu terbatas dengan suasana semacam di perkebunan dan di lingkungan yang dekat dengan hutan. Masa kecil dan remaja saya melulu dipenuhi kenangan perihal kemacetan, kepadatan penduduk dan permukiman, dan gersangnya wilayah Jakarta dengan sedikit tumbuhan yang tumbuh di sana.<\/p>\n\n\n\n

Jika pada masa kanak-kanak dan remaja saya hanya bisa menikmati komoditas yang ditanam di perkebunan sebatas di meja makan, atau dalam cangkir dan gelas kopi dan teh yang disajikan untuk saya, atau dalam rokok kretek yang dinikmati kakek dan paman-paman saya, semasa kuliah, saya pada akhirnya sudah bisa melihat komoditas-komoditas perkebunan itu ketika mereka tumbuh di ladang-ladang yang dikelola petani. Akan tetapi hanya sebatas itu, hanya sebatas sebagai pengamat saja. Melihat perkebunan-perkebunan itu dari dekat.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Mengenal Jenis Tembakau Terbaik Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Pada 2016, tepat ketika musim panen kopi tiba, pada akhirnya saya bukan sekadar sebagai penikmat yang menikmati pemandangan yang disajikan perkebunan-perkebunan ekonomis yang dikelola petani. Lebih dari itu, saya mendekat kepada petani, dan belajar banyak dari mereka bagaimana mereka mengelola perkebunan milik mereka dan berusaha bertahan hidup dan menghidupi keluarga dari perkebunan yang mereka kelola, baik itu di tanah milik sendiri, atau di tanah milik orang lain yang pengelolaannya diserahkan kepada petani dengan sistem bagi hasil atau sewa kontrak.<\/p>\n\n\n\n

Pada mulanya dari perkebunan kopi, lantas setahun berikutnya merambah ke perkebunan cengkeh, lalu setelahnya, hingga kini, saya begitu dekat dengan perkebunan tembakau, para petani tembakau, hingga kehidupan keluarga dan terutama anak-anak petani tembakau. Utamanya di wilayah Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Sejak 2016 akhir, hingga hari ini, setidaknya tiga sampai empat kali dalam sebulan saya bolak-balik Yogya-Temanggung bertemu dengan petani dan anak-anak petani tembakau di sana. Adakalanya saya pulang hari, kerap saya juga menginap di Temanggung, semalam, dua malam, dan hingga bermalam-malam sekehendak saya. Dari kunjungan-kunjungan itu, saya belajar banyak dari petani tembakau seperti apa mereka mengelola kebun tembakau milik mereka. Jika dahulu saya sekadar menjadi penikmat rokok kretek yang tembakau-tembakaunya diambil dari ladang-ladang mereka. Kini, sudah sedikit meningkat. <\/p>\n\n\n\n

Saya bukan sekadar penikmat kretek, tetapi sedikit-sedikit sudah mulai mengetahui proses produksi komoditas yang menjadi bahan utama pembikin rokok kretek. Dari banyak informasi yang saya dapat dari petani perihal komoditas tembakau mereka, salah satunya, yang baru beberapa hari lalu saya pahami, adalah proses panen panjang yang mereka lalui ketika kebun-kebun tembakau mereka sudah memasuki musim panen.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tembakau Lauk dari Temanggung<\/a><\/p>\n\n\n\n

Sekira sepekan lalu, saya kembali berkunjung ke Temanggung untuk bertemu beberapa petani tembakau di Desa Tlilir. Musim panen sudah tiba di Temanggung. Hampir tiap sudut di Kabupaten Temanggung, dibanjiri oleh tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dan sedang dijemur. Di ladang-ladang, tembakau yang belum dipanen masih tumbuh dan menanti giliran dipanen. Aroma tembakau yang khas meruak seantero Temanggung, menyapa indera penciuman tiap-tiap manusia yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baru sepekan yang lalu saya paham seperti apa tembakau itu dipanen oleh para petani tembakau. Setidaknya tembakau yang dipanen oleh para petani tembakau di Temanggung. Saya belum paham bagaimana metode panen tembakau di perkebunan lain di luar Temanggung. Namun saya menduga, ada kemiripan di sana. Antara panen tembakau di Temanggung, dengan daerah-daerah lainnya yang juga penghasil tembakau di negeri ini.<\/p>\n\n\n\n

Mayoritas petani tembakau di Temanggung menanam jenis tembakau kemloko. Dari satu varietas kemloko, ada enam turunan bibit yang ada di Temanggung: kemloko 1, kemloko 2, kemloko 3, kemloko 4, kemloko 5, dan kemloko 6. Dari enam jenis itu, kemloko 2 dan kemloko 3 yang paling banyak dipilih petani untuk ditanam di ladang-ladang yang ada di Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Menurut petani yang saya temui di Desa Tlilir, dalam satu batang pohon tembakau yang ditanam, idealnya terdapat 16 hingga 24 helai daun tembakau. Itu yang ideal, kurang dari 16 atau lebih dari 24, dianggap kurang ideal oleh petani. Kurang dari 16 helai dianggap kurang ideal karena itu menandakan tanah dan nutrisi dalam tanah tidak terlalu subur. Lebih dari 24 dianggap kurang ideal karena terlalu banyak daun yang berkompetisi dalam sebatang pohon tembakau untuk memperebutkan nutrisi dari tanah.<\/p>\n\n\n\n

Ketika musim panen tiba, petani tidak memanen langsung seluruh daun dalam satu batang pohon, tetapi hanya satu helai daun saja per pohon dalam sekali panen. Daun yang diambil mulai dari daun yang ada dan tumbuh paling bawah. Selang lima hingga tujuh hari berikutnya, baru daun kedua dipanen, daun yang letaknya pada posisi persis di atas daun terbawah yang lima hari sebelumnya sudah dipanen. Begitu terus proses panen dilakukan, satu per satu, dari bawah ke atas, berjarak lima sampai tujuh hari dari panen daun sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n

Setelah daun ke-12 atau daun ke-13 dipanen dengan metode seperti di atas, sisa daun tembakau tersisa yang belum dipanen kemudian dipanen seluruhnya. \u2018Mrotoli\u2019, begitu istilah petani tembakau di Temanggung untuk menyebut proses panen daun tembakau yang sudah tidak dipanen satu per satu lagi, tapi memanen keseluruhan sisa daun yang belum dipanen dalam sebatang pohon tembakau setelah 12 hingga 13 kali dipanen. <\/p>\n\n\n\n

Proses semacam ini memerlukan ketekunan dan ketelitian tinggi, memerlukan waktu yang panjang, dan tentu saja membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Dengan metode panen semacam ini, petani tembakau membutuhkan waktu sekira dua hingga tiga bulan untuk benar-benar menyelesaikan proses panen tembakau mereka di ladang, sebelum akhirnya tembakau-tembakau itu dijual ke pabrikan, diproduksi menjadi rokok kretek, dipasarkan di banyak tempat hingga pada akhirnya kita nikmati dalam sebatang rokok kretek.
<\/p>\n","post_title":"Melihat Petani Tembakau di Temanggung Memanen Tembakau Mereka","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"melihat-petani-tembakau-di-temanggung-memanen-tembakau-mereka","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-23 11:25:03","post_modified_gmt":"2019-08-23 04:25:03","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5984","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5981,"post_author":"878","post_date":"2019-08-22 08:38:35","post_date_gmt":"2019-08-22 01:38:35","post_content":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_title":"Tembakau Adalah Takdir Desa Kami","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"tembakau-adalah-takdir-desa-kami","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-03 16:14:50","post_modified_gmt":"2024-01-03 09:14:50","post_content_filtered":"\r\n

Sehari sebelum peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia kemarin, saya berkunjung ke Desa Tlilir, Kabupaten Temanggung<\/a>. Desa Tlilir terletak di lereng timur Gunung Sumbing, berada pada ketinggian antara 1000 dan 1200 meter di atas permukaan laut dengan kontur yang miring mendominasi desa. Musim kemarau sedang memasuki masa puncak di Tlilir dan juga di Kabupaten Temanggung.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Di Desa Tlilir, tujuan saya adalah rumah Rofi\u2019i, salah seorang petani tembakau kenalan saya. Lewat bantuan Rofi\u2019i, saya selanjutnya berencana bertemu dengan beberapa orang petani tembakau lainnya dan berkunjung ke perkebunan tembakau yang sudah memasuki masa panen untuk tahun ini.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jelang siang 16 Agustus 2019, saya sudah berada di pusat Kabupaten Temanggung. Saya lantas menghubungi Rofi\u2019i untuk janji bertemu di Desa Tlilir. Saya sudah siap berangkat ketika Rofi\u2019i mengingatkan bahwa sebaiknya saya menunda sebentar keberangkatan ke Desa Tlilir, berangkat setelah ibadah salat jumat selesai. Lantas, saya mengiyakan. Sebelum Rofi\u2019i mengingatkan hal tersebut, saya benar-benar lupa bahwa hari itu adalah hari Jumat. Jika Rofi\u2019i tidak mengingatkan saya, dan langsung berangkat menuju Desa Tlilir, saya akan bertamu ketika kebanyakan warga laki-laki sedang melaksanakan salat jumat. Tentu saja ini tidak baik.<\/p>\r\n

Perjalanan dari Yogya Menuju Tlilir, Desa Tembakau di Temanggung<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selepas salat jumat, dengan sepeda motor yang saya kendarai sejak dari Yogya, saya berangkat ke Desa Tlilir dari pusat Kabupaten Temanggung bersama Dodo<\/a>, salah seorang penjaga gawang situsweb bolehmerokok.com. Mula-mula, kami melewati pasar Temanggung. Pada simpang empat sebelum memasuki Alun-Alun Temanggung, kami berbelok ke arah kiri. Menyusuri jalan raya yang menghubungkan Kota Temanggung dengan kecamatan-kecamatan di lereng timur Gunung Sumbing, wilayah yang menjadi penghasil tembakau jenis srintil yang kesohor itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Kami lantas berbelok ke kanan, ke arah barat dari jalan utama. Jalan mulai menanjak. Di kiri dan kanan jalan, tembakau-tembakau yang sudah selesai dipanen dijemur memanfaatkan sempadan jalan. Aroma tembakau meruak menyapa hidung. Selepas perkampungan, pohon-pohon tembakau yang menunggu dipanen tumbuh subur di ladang-ladang yang berada pada kontur miring. Jalan mulai menanjak, dan semakin menanjak menjelang kami tiba di Desa Tlilir.<\/p>\r\n

Bersua dengan Rofi'i<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Setelah 43 menit menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor, kami tiba di kediaman Rofi\u2019i. Secangkir teh panas segera dihidangkan istri Rofi\u2019i untuk saya dan Dodo. Kami lantas berbincang perihal pertanian tembakau sembari menikmati secangkir teh dan berbatang-batang kretek. Berturut-turut empat orang petani lainnya datang bergabung bersama kami di ruang tamu kediaman Rofi\u2019i. Di luar panas menyengat. Sementara udara dingin ketinggian mengepung tempat-tempat teduh seperti tempat kami semua berbincang siang itu.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Berturut-turut lima orang petani tembakau yang berbincang bersama saya dan Dodo menceritakan bermacam pengetahuannya terkait seluk beluk dunia pertembakauan yang sudah fasih mereka ketahui. Saya dan Dodo, mencatat pengetahuan baru dari mereka yang sebelumnya sama sekali belum kami ketahui. Desa Tlilir, menjadi satu dari banyak desa di 19 kecamatan di Kabupaten Temanggung yang dikenal sebagai penghasil tembakau baik.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cBisa dibilang, hampir seluruh warga desa di sini mencari uang dari pertanian tembakau. Kalau dikira-kira, kurang dari lima persen saja yang tidak terkait langsung dengan tembakau. Ada yang jadi PNS atau bekerja merantau ke luar Temanggung.\u201d Ujar Rofi\u2019i terkait pekerjaan warga desa tempat Ia tinggal.<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Mempertahankan Tradisi dan Kebudayaan Kretek<\/a><\/p>\r\n

Cerita Rofi'i kepada Kami<\/h3>\r\n\r\n\r\n\r\n

Informasi perihal masa tanam, proses perawatan, musim panen, proses panen, proses pengolahan daun tembakau hingga siap dijual, hingga proses penjualan dan penentuan harga, silih berganti masuk menjadi pengetahuan baru bagi saya dan Dodo dari lima orang petani tembakau yang kami temui di Desa Tlilir. Mereka juga menceritakan suka duka menjalani profesi sebagai petani tembakau.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Ketika menceritakan duka-duka yang dialami sebagai petani tembakau, saya lantas melontarkan pertanyaan kepada para petani itu, \u201cApa nggak kepikiran mengganti tanaman tembakau dengan tanaman lain yang lebih menjanjikan?\u201d<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cDi musim kemarau begini, apa lagi tanaman yang bisa ditanam dan bisa menghasilkan pemasukan yang menjanjikan selain tembakau? Jika ada, saya mau-mau saja menanamnya. Tapi sejauh ini, ya cuma tembakau yang bisa tumbuh baik di musim kemarau. Rumput saja mati, nggak bisa tumbuh.\u201d Jawab Dimyati, salah seorang petani yang berbincang bersama kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Cengkeh, Pemicu Revolusi Industri Hingga Menjadi Tameng Kerusakan Lingkungan<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cSudah sejak nenek moyang kami menanam tembakau, karena hanya itu yang cocok ditanam di musim kemarau. Tembakau malah paling bagus jadinya ya kalau musim kemarau begini. Kalau hujan, kami nangis. Tembakau gagal jadi. Harganya jatuh kalau dekat-dekat musim panen malah hujan. Jadi kami ini anomali. Di saat banyak petani lain berharap ada hujan ketika mereka menanam hingga panen, kami malah berharap kemarau benar-benar sempurna agar hasil tembakau kami baik dan harga menguntungkan kami.\u201d Tambah Sunyoto kepada kami.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

\u201cJadi, bisa dibilang, tembakau itu adalah takdir desa kami. Kami lahir dan hidup di desa ini untuk terus melanjutkan menanam tembakau di musim kemarau, seperti yang sudah dilakukan oleh orang tua kami dulu, dan oleh orang tua-orang tua mereka sebelumnya. Selama tembakau masih dibutuhkan dan tidak dilarang, kami dan anak-anak kami kelak, juga akan terus menanam tembakau di sini, di desa ini. Karena tembakau adalah takdir desa kami.\u201d Terang Rofi\u2019i.<\/strong><\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5981","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5976,"post_author":"915","post_date":"2019-08-20 08:50:39","post_date_gmt":"2019-08-20 01:50:39","post_content":"\n

Tema tentang kretek dalam satu dasa warsa, terutama beberapa tahun belakangan menjadi wacana yang menyita perhatian publik. Seluruh energi bangsa, terutama pihak-pihak yang berkepentingan dengan nilai ekenomi \u201casap ajaib\u201d ini dicurahkan untuk membela maupun menyudutkan racikan yang oleh daerah asalnya diberi label \u201ckretek\u201d ini.<\/p>\n\n\n\n

Paduan hasil budidaya para petani asli Indonesia yang terdiri dari bahan tanaman cengkih dan belasan jenis tembakau dari penjuru negeri ditambah saus pembangkit aroma telah mengundang perhatian dunia sejak zaman kolonialisme Hindia Belanda.<\/p>\n\n\n\n

Tidak mengherankan sebetulnya, karena \u201crokok cengkeh\u201d ini telah lama dikenal sebagai varian kreativitas anak bangsa dari produk rempah-rempah bumi Nusantara. Karenanya, dengan modus yang sama, bangsa lain ingin menancapkan kembali \u201ckuku kolonialisme\u201d melalui segala dalih termasuk isu mulia \u201ckesehatan\u201d untuk merebut kuasa pasar jagad distribusi kretek.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek Cerminan Kedaulatan Ekonomi dan Tradisi Budaya Bangsa<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Gaya koloni baru dengan taktik dan strategi mutakhir terutama melalui isu ekonomi dan kebudayaan menjadi pilihan rasional bagi negara agresor untuk menguasai sumber-sumber daya yang menjadi komoditas unggulan dunia.<\/p>\n\n\n\n

Dengan dalih demokrasi negara-negara Timur Tengah yang dikenal sebagai penghasil tambang minyak berganti rezim dengan membayar mahal karena sumber energinya dikuasai oleh jaringan kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Sama halnya negara-negara di Timur Tengah, sumber-sumber daya ekomoni negara Indonesia, baik potensi kekayaan laut, hasil tambang maupun hasil budi daya pertanian, terutama tanaman rempah-rempah menjadi target incaran kolonialisme global.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia yang dikenal sebagai tanah surga, karena mulai dari laut, kandungan perut bumi dan budi daya pertanian memiliki kekayaan luar biasa. Namun potensi kekayaan tersebut seolah menjadi \u201ckutukan\u201d bukan keberkahan. Dengan potensi kekayaan yang melimpah, Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurus sendiri.<\/p>\n\n\n\n

Lihatlah potensi kekayaan Indonesia, mulai pemandangan eksotis dari puncak gunung hingga ke dasar laut, tanah yang subur (karena banyaknya gunung berapi dan terletak di antara garis khatulistiwa).<\/p>\n\n\n\n

Lautan terluas di dunia dan dikelilingi oleh dua samudera (jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki oleh negara lain), hutan tropis terbesar di dunia (39.549.447 ha dengan keanekaragaman dan plasma nutfah terlengkap), cadangan gas alam terbesar dunia di blok Natuna (Blok Natuna D Alpha memiliki 202 triliun kaki kubik cadangan gas), blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu), dan yang paling menggemparkan adalah tambang emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia bernama PT Freeport Indonesia. Dalam soal mengelola tambang Indonesia minus kedaulatan.<\/p>\n\n\n\n

Di tengah laut, negara tidak berdaya menghadapi para pencuri ikan (illegal fishing) dan plasma laut lainnya. Menurut Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), kerugian akibat penjarahan oleh nelayan asing sampai Rp 30 triliun per tahun.<\/p>\n\n\n\n

Penjarahan terutama terjadi di laut China Selatan, Arafura, Laut Sulawesi, serta perairan lain yang terhubung langsung ke negara tetangga. Hal ini terjadi selain lemahnya pengawasan, juga karena kian agresifnya nelayan asing menjelajahi perairan Indonesia dengan dukungan kapal dan alat tangkap memadai.<\/p>\n\n\n\n

Indonesia merupakan negara dengan tingkat biodiversitas tertinggi kedua di dunia setelah Brazil. Fakta tersebut menunjukkan tingginya keanekaragaman sumber daya alam hayati yang dimiliki Indonesia. Berdasarkan Protokol Nagoya, sumber daya alam hayati tersebut akan menjadi tulang punggung perkembangan ekonomi yang berkelanjutan (green economy). Namun lagi-lagi Indonesia tidak memiliki kedaulatan untuk mengurusnya.<\/p>\n\n\n\n

Soal komoditas yang menguasai hajat hidup orang banyak dan tentu saja unggulan, terutama komoditas rempah-rempah menjadi incaran kolonialisme global.<\/strong><\/p>\n\n\n\n

Berkaca pada terenggutnya kedaulatan ekonomi komoditas unggulan seperti minyak kelapa (copra), garam, gula, dan jamu, Indonesia rentan terhadap sasaran pembajakan hayati (biopiracy). Indonesia telah menjadi pasar sonder kedaulatan sebagai negara produsen.<\/p>\n\n\n\n

Legenda kretek adalah aset dan omset nasional tersisa yang hingga kini masih bertahan dan menjadi penguasa di negeri sendiri. Kejayaan kretek tersirat dari penyebutan nama Nitisemito (pengusaha kretek yang sukses dan kaya dari Kudus) oleh Soekarno saat negara Indonesia akan diproklamasikan (Yudi Latif, 2012).<\/p>\n\n\n\n

Episode kretek telah mengawal negeri melewati masa-masa pahit dan manis perjalanan anak negeri. Saat badai krisis menerpa kretek tetap bernadi. Kretek merupakan industri nasional berkarakter lokal. Modal dari dalam negeri, berproduksi di dalam negeri, sebagain besar bahan bakunya dari dalam negeri, tenaga kerjanya (dari hulu sampai hilir) dari dalam negeri, mayoritas kapasitas produksi dipasarkan di dalam negeri dan menguasai pasar dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Kretek sebagai Konsep Kemandirian dan Kedaulatan Bangsa <\/a><\/p>\n\n\n\n

Buku \u201cKiminalisasi Berujung Monopoli: Industri Tembakau Indonesia di tengah Pusaran Kampanye Regulasi Anti Rokok Internasional\u201d (Jakarta, Indonesia Berdikari, 2011) mencatat secara global pasar tembakau bernilai 378 milyar dolar AS, tumbuh 4,6 % pada tahun 2007.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2012, nilai pasar tembakau diproyeksikan meningkat 23% mencapai 464,4 milyar dolar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebua negara, maka posisinya menduduki peringkat 23 dunia dasi sisi Produk Domestic Bruto (PDB).<\/p>\n\n\n\n

Melihat potensi pasar raksasa tersebut, komoditas tembakau akan menjadi rebutan. Apalagi kretek merupakan produk rokok yang tidak ada duanya di dunia sangat diminati dan memiliki kekuatan penetrasi di pasar global.<\/p>\n\n\n\n

Dogma kesehatan dalam isu kampanye global perang melawan tembakau yang merambah Indonesia hanyalah strategi pengalih isu para imperialis pemburu kretek. Faktanya, pertama, setelah regulasi didominasi oleh kelompok anti tembakau (tobacco control), impor tembakau ke Indonesia meningkat.<\/p>\n\n\n\n

Pada tahun 2003 sebesar 29.576 ton naik menjadi 25.171 ton pada tahun 2004, tahun 2005 sebesar 48.142 ton, tahun 2006 sebesar 48.287 ton, tahun 2007 sebesar 61.687 ton, dan tahun 2008 menjadi 77.302 ton. Dari tahun 2003-2008 impor tembakau Indonesia naik 25o%.<\/p>\n\n\n\n

Justru di saat yang sama negara melalui Menteri Pertanian menganjurkan petani tembakau beralih ke tanaman hortukultura dan perlunya kebijakan subtitusi bagi para petani.<\/p>\n\n\n\n

Kedua, impor rokok dan cerutu ke Indonesia meningkat. Impor rokok meningkat rata-rata 86,87%, dari 0,836 juta dolar AS di tahun 2004 menjadi 4,357 juta dolar AS pada 2008. Di tahun yang sama, impor cerutu juga meningkat rata-rata 197,5% per tahun, 0,09 juta dolar AS menjadi 0,979 juta dolar AS. (Outlook Komoditas Pertanian dan Perkebunan, Pusat Data dan Informasi Pertanian Kementrian Pertanian, 2010).<\/p>\n\n\n\n

Ketiga, dua perusahaan kretek besar telah diambil alih sahamnya oleh kapitalis asing. Di tahun 2005 Philip Moris membeli 97% saham HM Sampoerna dengan nilai pembelian sebesar 48,5 trilliun rupiah. Pada tahun 2009 gilirian British American Tobacco (BAT) membeli perusahaan kretek terbesar keempat, Bentoel dengan nominal 5 trilliun rupiah.<\/p>\n\n\n\n

Lalu, apa arti dari kampanye kesehatan termasuk memproduksi regulasi yang menjerat industri kretek dalam negeri? Logika apalagi untuk mempertahankan argumen bahwa kampanye kesehatan dalam isu kretek bukan kedok strategi menguasai produksi kretek nasional. Karena itu, sudah sepantasnya jika ada perlawanan dari masyarakat, terutama komunitas kretek untuk berjihad mempertahankan kedaulatan kretek.<\/p>\n","post_title":"Jangan Biarkan Kedaulatan Kretek Goyah","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"jangan-biarkan-kedaulatan-kretek-goyah","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-08-20 08:50:47","post_modified_gmt":"2019-08-20 01:50:47","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5976","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":35},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};