\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};

\n

Hari pertama di Temanggung, Selasa, 7 Mei 2019, total 10 rumah saya kunjungi. Seluruhnya di Kecamatan Bulu. 10 rumah petani\/buruh tani tembakau yang tersebar di delapan dusun dan enam desa.<\/p>\n\n\n\n

Dari 10 rumah, mayoritasnya terletak di desa-desa yang berada di lereng Gunung Sumbing. Jalan menanjak dan menurun. Udara dingin. Perbukitan yang ditumbuhi pohon kayu keras semisal cengkeh dan pinus, atau tanaman sayur dan buah, atau tembakau. Kabut tipis yang turun ketika senja tiba. Dan keluarga dengan kekhasan masing-masing.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Ramadan membikin kami membatasi perjalanan hanya sampai sore. Tak elok rasanya bertamu di waktu buka puasa. Waktu luang antara saat berbuka hingga salat tarawih dimulai sangat terbatas dan memang sebaiknya tidak mengganggu sebuah keluarga dengan bertamu pada jam-jam tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Di sisi lain, kami harus memanfaatkan dan memaksimalkan waktu kunjungan sejak pagi hingga sore hari, dalam keadaan berpuasa. Siklus keseharian sebuah keluarga saat memasuki bulan ramadan saya kira berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Bertamu saat berpuasa, butuh sedikit penyesuaian berbeda. Begitu setidaknya yang kami rasakan kali ini.<\/p>\n\n\n\n

Di rumah terakhir yang saya kunjungi pada hari pertama, tuan rumah menawarkan kami menunggu waktu berbuka puasa dan berbuka puasa bersama mereka. Saya menolak. Saya dan Hakim, lantas pamit pulang usai berbincang dengan pemilik rumah. Kami meninggalkan rumah berbatu-bata telanjang dan berlantai tanah di selatan kali kecil. Tak jauh dari jalan kampung, kami kembali ke jalan raya yang menghubungkan Parakan dan pusat Kabupaten Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Dalam perjalanan pulang menuju tempat penginapan saya selama di Temanggung, kepala saya memikirkan banyak hal terkait hasil kunjungan dan obrolan dengan 10 keluarga yang berlatar belakang petani\/buruh tani dengan komoditas utama yang mereka tanam tembakau. Bermacam hal terlintas di kepala. Terutama perihal sektor pertanian (terutama pertanian tembakau) dan keluarga yang menggantungkan sumber kehidupannya dari sektor tersebut. <\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)<\/a><\/p>\n\n\n\n

Bagi Kabupaten Temanggung, tembakau masih menjadi primadona. Mereka bahkan berani memproklamirkan diri sebagai Kota Tembakau karena besarnya peran pertanian tembakau bagi hidup dan kehidupan di Kabupaten Temanggung. Ada terlalu banyak warga Temanggung yang mengandalkan sektor pertembakauan sebagai sumber penghasilan mereka. 10 di antaranya, saya temui di hari pertama verifikasi program beasiswa KNPK Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Maghrib semakin dekat. Waktu berbuka puasa di hari kedua akan segera tiba. Jalan-jalan di kota Temanggung ramai penjual beragam jenis makanan berbuka dan para pembelinya. Transaksi terjadi. Sepeda motor kami terus melaju meninggalkan keramaian, tanpa sedikit pun berpikir singgah untuk membeli beberapa makanan untuk berbuka puasa. Padahal sekadar air putih saja kami belum punya untuk berbuka. Namun sepeda motor kami terus saja melaju. Tidak singgah.<\/p>\n\n\n\n

Yang terlintas di kepala saya juga terus melaju. Berganti dari satu pikiran ke pikiran lainnya tanpa saya kehendaki. Saya lantas teringat sebuah informasi yang berasal dari rumah ketujuh yang saya datangi. Di sana saya mendapat informasi, selain faktor cuaca, faktor penyakit juga bisa menyebabkan kegagalan panen tembakau dalam satu musim. Penyakit yang menyerang tembakau, salah satunya adalah penularan dari penyakit pada tanaman yang ditanam sebelum tembakau di lahan yang sama. Cabai, tomat, terong, dan tanaman-tanaman lain yang serumpun dengan tembakau.<\/p>\n\n\n\n

Jika penyakit itu menyerang, risiko gagal panen cukup besar. Akibatnya perekonomian banyak keluarga akan terganggu. Namun, penularan penyakit itu kini cukup mudah dihindari. Salah satu cara mudahnya adalah dengan menanam tanaman antara. Jeda antara dua tanaman serumpun.<\/p>\n\n\n\n

Sayangnya, masih ada lagi penyakit berbahaya yang mengancam sektor pertanian tembakau. Penyakit ini penyakit global, dan penularannya begitu mengerikan. Penyakit yang dibikin untuk membunuh sektor pertembakauan di nusantara dan bisa jadi di seluruh dunia. Nama penyakit itu adalah gerakan anti tembakau. Besok mereka akan memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia.<\/p>\n\n\n\n

Penyakit ini, punya bermacam-macam cara untuk merusak pertanian dan industri hasil tembakau. Ia bisa menyerang dari segala lini. Dampaknya kelak jika penyakit ini tidak lekas basmi, ia bisa menghancurkan sumber perekonomian banyak keluarga di banyak tempat. Bahaya. Sebuah hama berbahaya yang mesti lekas dimusnahkan.<\/p>\n\n\n\n

Azan maghrib berkumandang. Kami tiba di tujuan kami, tempat rehat, berbuka puasa sejenak sebelum beranjak ke penginapan untuk rehat agar perjalanan di hari selanjutnya lancar.<\/p>\n\n\n\n

Bersambung\u2026<\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (5)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-5","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-30 10:17:44","post_modified_gmt":"2019-05-30 03:17:44","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5765","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5763,"post_author":"877","post_date":"2019-05-29 12:35:32","post_date_gmt":"2019-05-29 05:35:32","post_content":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_title":"Dari Dahulu hingga Nanti Bangsa Ini Besar dari Tanaman Tembakau","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"dari-dahulu-hingga-nanti-bangsa-ini-besar-dari-tembakau","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2024-01-02 14:50:50","post_modified_gmt":"2024-01-02 07:50:50","post_content_filtered":"\r\n

Hamparan lahan dipersiapkan untuk tanaman tembakau terlihat di lereng-lereng gunung di Temanggung. Kalau di lihat dan diangan-angan bagaimana para petani menanam tembakau di lereng-lereng yang curam tersebut, bahkan sampingnya terlihat jurang tajam. Terlihat para petani di lereng-lereng gunung mulai pengolahan tanah sebagai agenda persiapan sudah menggadaikan nyawanya. Tanpa pengaman, mereka dengan asyik mencangkuli lahan tersebut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Belum hilang rasa ngeriku, aku bertemu dengan salah satu petani tembakau yang aku kenal. Ia adalah pak Parjanto dari Kwadungan Kledung Temanggung, orangnya belum begitu tua sekitar umur 50an, berbadan kekar, dan ulet. Ia salah satu petani tembakau di Temanggung yang sukses. Dalam budidaya tembakau, ia tidak asal-asalan, lebih cenderung menjaga kualitas dari pada kuantitas. Tentunya kalau bisa semuanya, kualitas baik, kuantitas bagus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (4)<\/a><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Dari nenek moyang, hingga kini lahan Pak Yanto selalu di tanami tembakau, saat musim tanam tiba. Memang dibulan-bulan selesai tembakau, lahannya ditanami Lombok, bawang merah dan tanaman lainnya. Menurut Pak Yanto, tanaman inti adalah tembakau, tanaman lainnya hanya untuk selingan. Karena tembakau adalah tanaman musiman, tidak bisa dalam satu tahun selalu ditanami tembakau. Tembakau di Temanggung ditanam saat musim hujan mulai menyurut, biasanya di akhir bulan April atau di awal bulan Mei. Tanaman tembakau termasuk tanaman yang agak manja, terlalu banyak air tidak baik, tidak ada air juga demikian, sehingga membutuhkan air yang pas. Semisal diawal tanam tidak ada air, bibit yang ditanam akan layu bahkan mati. Setelah tumbuh, terlalu banyak air juga akan terjadi pembusukan dan mati.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selain itu tanaman tembakau termasuk jenis tanaman yang selalu mengalah jika ada tanaman lain disampingnya. Semisal dalam satu hamparan ditanami tembakau dan tanaman lainnya seperti Lombok dan lain-lain, dipastikan tanaman tembakau akan kalah dalam penyerapan air dan nutrisi. Tanaman tembakau pada dasarnya hanya memerlukan segenggam tanah sesuai perkembangan akar itupun tanah bagian dasar saja, tidak seperti tanaman lain.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Usai Pak Yanto menjelaskan sedikit karakteristik tanaman tembakau, dalam perbincangan aku melontarkan pertanyaan, kenapa harus menanam tembakau?. Ia pun menjawab, bahwa tidak ada tanaman yang hasil uangnya lebih besar dari tanaman tembakau, apalagi di lahan atas di lereng-lereng gunung yang tidak mungkin ada pasokan air cukup. Lahan atas hanya mengandalkan air hujan, kalau pun terpaksa butuh air kayak ketika kemarau panjang, petani harus menyiramkan air, yang harus diambil dari bawah. Lahan atas itu tandus, tidak seperti lahan bawah banyak irigasi. Coba tunjukkan tanaman selain tembakau yang mempunyai nilai ekonomi lebih dari tembakau, sembari jari telunjuknya mengarah kepadaku. Aku diam sejenak, sambil mikir, lalu aku bilang kopi Pak. Pak yanto langsung menenggapi, coba dihitungkan. Akupun akhirnya diam. Pak Yanto melanjutkan ceritanya, sejelek-jeleknya tanaman tembakau, asal tidak mati saja, masih dapat uang, memang berkurang, setidaknya untuk hidup kedepan. Apalagi saat tanaman tembakau bagus hasilnya, bisa untuk hidup dalam jangka panjang, dan memenuhi kebutuhan dilain kebutuhan primer. Seperti, para petani di Temanggung terbiasa untuk bangun rumah, untuk menikah, khajatan yang memerlukan uang banyak menunggu usai panen istilah yang populer \u201cbar mbakon\u201d (selesai panen tembakau), ini jawaban pertama.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Baca: Pak Medi dan Tembakau<\/a>\u00a0<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Jawaban kedua; dari dulu mulai nenek moyang pengalaman mengolah tanah dilereng-lereng gunung selalu ditanami tembakau. Bahwa konon ceritanya tanaman tembakau di Temanggung dibawa oleh para wali. Jadi tanaman tembakau adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Selanjutnya, aku bertanya lagi ke Pak Yanto, bagaimana pendapat bapak terhadap gerakan anti tembakau, atau ada hari tanpa tembakau?. Dijawab dengan santai sambil senyum, inilah khasnya Pak Yanto, biarin aja, mereka tidak mengalami sendiri sebagai petani temabakau, tidak punya lahan di lereng gunung yang tandus, yakin mereka tidak pernah menjadi petani. Apalagi, saya pernah dengar kalau kebanyakan mereka yang anti tembakau adalah dari kesehatan dan sering memakai dalil kesehatan untuk mensukseskan niatannya.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto yang bicara, ia punya 2 tantangan bagi mereka (rezim kesehatan) yang selalu berkampanye negatif tentang tembakau dan turunannya. Pertama; mengajak beradu kekuatan dengan petani tembakau naik gunung dengan membawa beban apapun dipundak. Petani tembakau 99.9% perokok, kalau memang olahan tembakau berupa rokok menimbulkan sesak nafas, pastinya para petani tidak kuat naik, sudah jalannya terjal, tinggi dan miring. Kalau memang olahan tembakau berupa rokok penyebab kematian, sudah lama masyarakat Temanggung mati semua, dan lahan di Temanggung banyak yang kosong banyak yang mati gara-gara mengkonsumsi olahan tembakau (rokok). Kalau memeng tembakau menjadi penyebab munculnya penyakit, orang-orang Temanggung banyak yang sakit gara-gara tembakau, karena mayoritas masyarakat Temanggung menanam tembakau dan menggantungkan hidupnya pada tembakau. Kalau memang tembakau menjadi penyebab impotensi, nyatanya banyak petani dan perokok anaknya banyak, bisa diadu dengan mereka (rezim kesehatan), hitung-hitungan banyakan anak. Justru mereka (rezim kesehatan) itu yang sering menyuruh membatasi punya anak, disuruh ikut KB dengan agenda dua anak cukup.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Masih Pak Yanto, jadi semua tuduhan yang dialamatkan pada tembakau dan hasil olahannya keliru, tidak sesuai kenyataan di lapangan khususnya Temanggung, sebagai salah satu sentra tembakau terbesar di Indonesia. Tidak mungkin nenek moyang kita mengajarkan yang jelek, mengajarkan menanam tanaman yang merugikan. Pastinya nenek moyang kita mengajarkan yang baik dan bermanfaat. Apalagi dahulu tanaman tembakau untuk media pengobatan oleh Sunan Kedu. Konon Sunan Kedu salah satu ahlinya adalah Tabib dan suka meracik obat dengan bahan dasar daun Tembakau. Belum lagi banyak yang cerita, awal mulanya ditemukan racikan rokok kretek untuk mengobati sakit sesak nafas akut.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Sebaiknya rezim anti tembakau belajar sejarah, dalami sejarah, hargai sejarah, terlebih bagi rezim kesehatan. Seharusnya mereka (rezim kesehatan) melakukan riset pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh, dengan dasar sejarah yang mengatakan demikian. Bukan malah memusuhi dan ikut ikutan menilai negatif keberadaan tembakau di Indonesia.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Tantangan kedua bagi rezim anti tembakau, yaitu; coba sebutkan, apakah ada tanaman yang menghasilkan dengan nilai ekonomi melebihi tanaman tembakau untuk lahan kering dan tandus?. Petani tembakau sudah mempraktekkan semua jenis tanaman ditanam, tetap yang mempunyai nilai ekomomi tinggi adalah tembakau untuk lahan di lereng pegunungan, hal ini karena kearifan lokal.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n

Keberadaan hari tanpa tembakau di Indonesia sangat tidak relevan dengan kenyataan, harus kita tolak. Hari tanpa tembakau hanya akan menciderai saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai petani tembakau. Sedangkan tuduhan negatif terhadap tembakau tidak terbukti. Dari sejarah budidaya tembakau yang diajarkan oleh nenek moyang tentunya untuk kebaikan dan kemanfaatan, sejarah olahan hasil tembakau berupa rokok untuk pengobatan. Justru dengan modal sejarah yang ada, rezim kesehatan berpeluangan mengabadikan tembakau, dengan melakukan pengembangan kemanfaatan tembakau bagi tubuh manusia. \u00a0\u00a0\u00a0<\/p>\r\n","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5763","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5760,"post_author":"883","post_date":"2019-05-28 06:00:39","post_date_gmt":"2019-05-27 23:00:39","post_content":"\n

Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta meninggalkan kisah pilu dari Abdul Rajab, seorang pemilik warung di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Pada saat malam kerusuhan, warung Rajab habis dijarah massa, ludes tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp 50 juta.
<\/p>\n\n\n\n

Diantara barang dagangan Rajab yang dijarah massa, rokok merupakan salah satu barang dagangan yang bernilai besar taksiran kerugiannya. Sebagaimana pengakuan Rajab kepada pihak media.
<\/p>\n\n\n\n

\"Rokok minuman, Indomie, kopi. Ada (uang), sekitar Rp 8 jutaan. Iyalah diambil, orang seratus perak juga diambil, nggak disisain. Minuman itu (dalam kulkas) punya saya semua itu. Habis semua udah, nggak ada, dari nol lagi kita berdiri,\" tutur Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Cebong dan Kampret, Merokoklah agar Rileks Menerima Perbedaan<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Rokok memang menjadi salah satu komoditas dagangan yang memiliki nilai tinggi bagi para pedagang warung. Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang pedagang kaki lima. Pertanyaannya sederhana, \u201cDagangan apa, Pak, yang paling laku, dan untungnya paling banyak buat bapak?\u201d Sembari menghitung uang kembalian, si bapak menjawab, \u201capalagi kalau bukan rokok, Mas.\u201d
<\/p>\n\n\n\n

Dari percakapan singkat di atas, boleh jadi rata-rata pedagang kaki lima atau eceran lainnya akan menjawab hal yang sama. Pasalnya bukan sekali-dua kali pertanyaan tersebut dilayangkan kepada para pedagang eceran. Berkali-kali sudah dan jawabannya tetap sama, yakni rokok atau rokok akan menjadi salah satu di antara berbagai jenis dagangan yang laku dijual.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya merupakan bagian dari rakyat yang menggantungkan hidupnya dari sektor Industri Hasil Tembakau (IHT). Sektor IHT dari hulu ke hilirnya memberikan penghidupan bagi 30 juta jiwa rakyat Indonesia.
<\/p>\n\n\n\n

Rajab dan pedagang kecil lainnya hidup dari sektor hilir IHT. Mereka menjadi bagian dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memiliki peran sangat besar dalam perekonomian Indonesia.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Tionghoa dan Sejarah Pertembakauan Nusantara<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Indonesia sebanyak 57,89 juta unit, atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional. UMKM memberikan kontribusi terhadap kesempatan kerja sebesar 96,99 persen, dan terhadap pembentukan PDB sebesar 60,34 persen.
<\/p>\n\n\n\n

UMKM juga berkontribusi dalam penambahan devisa negara dalam bentuk penerimaan ekspor sebesar 27.700 milyar dan menciptakan peranan 4,86% terhadap total ekspor.
<\/p>\n\n\n\n

Meskipun Rajab hanyalah seorang pedagang kecil, tapi lihatlah kontribusinya terhadap negara, beliau dan para pedagang kecil lainnya adalah ujung tombak bagi perekonomian negara. Adapun rokok yang sehari-hari dijual oleh Rajab merupakan tiang penghidupan bagi Rajab.<\/p>\n\n\n\n

Seharusnya para penjarah merasa malu bahwa mereka telah merampas penghidupan Rajab yang notabene juga berasal dari kalangan rakyat kecil. Rokok yang dijarah dari warung Rajab adalah sumber penghidupan baginya, tidakkah kalian merasa berdosa?
<\/p>\n\n\n\n

Teruntuk kalian para penjarah yang merasa telah melakukan aksi heroik pada tanggal 22 Mei lalu, kalian tidaklah lebih heroik dan mulia ketimbang Rajab. Mungkin Rajab hanyalah seorang pedagang kecil yang berjualan rokok untuk menghidupi diri dan keluarganya sehari-hari, tapi bagi kami Rajab adalah pahlawan yang sesungguhnya. Pahlawan yang telah menggerakan sektor IHT dan telah banyak berkontribusi bagi perekonomian Indonesia.
<\/p>\n","post_title":"Kerusuhan 22 Mei dan Makna Sebatang Rokok bagi Abdul Rajab","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"kerusuhan-22-mei-dan-makna-sebatang-rokok-bagi-abdul-rajab","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-28 01:23:46","post_modified_gmt":"2019-05-27 18:23:46","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5760","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5758,"post_author":"877","post_date":"2019-05-27 12:53:52","post_date_gmt":"2019-05-27 05:53:52","post_content":"\n

Apa Yang Salah Kalau Wanita Merokok?
Kalimat protes dari seorang wanita, disaat mereka merokok dimanapun tempat di Kudus selalu menjadi perhatian orang. Seakan ada penilian negatif di saat melihat wanita merokok.<\/p>\n\n\n\n

Sebaliknya, wanita yang merokok merasa jijik terhadap mereka yang memandang dan menilai negatif terhadap wanita perokok. Dan orang yang menilai demikian tergolong \u201ckatrok alias deso\u201d.
Saat malam minggu kemarin, sehabis sholat tarawih perut terasa lapar, ada keinginan makan nasi lodeh. Bersamaan ingin makan nasi lodeh, aku melihat group wa santri tingtong. Ada kiriman foto Pak Cipto di group tersebut, sedang mengerjakan pekerjaannya membuat dekorasi acara peresmian Universitas Muhammadiyyah di Kudus. Terlintas batinku berkata \u201ccocok\u201d ada Pak Cip nama akrab Pak Cipto, bisa diajak cari makan nasi lodeh. Karena sudah lama kita tidak berburu warung nasi lodeh bersama, hampir sekitar tiga bulan. Bagi yang belum kenal Pak Cip akan menilai seorang preman, rambut gondrong pakai celana sobek sobek. Aslinya orangnya baik dan ramah pada siapapun, tidak terkecuali kepadaku walaupun usianya terpaut jauh lebih dewasa dariku.<\/p>\n\n\n\n


Aku japri pak Cip, sembari mengajak makan nasi lodeh. Dijawab dengan mengalihkan hari, bukan malam ini, karena ia harus menyelesaikan pekerjaannya mala ini juga. Tidak patah semangat, aku tetap menghampiri Pak Cip di tempat kerjanya. Aku merasa yakin, Pak Cip orangnya profesional tidak mungkin menyelesaikan pekerjaannya lama. Ternyata benar dugaanku, tidak lama setelah aku sampai di lokasi, pekerjaan Pak Cip pun selesai. Ia menyapa sambil berjalan kearahku.<\/p>\n\n\n\n


Kemudian aku dikenalkan dua wanita temennya yang konon selalu membantu pekerjaannya. Sebut saja Desi dan Dewi nama samara. Kita bersalaman sambil memeperkenalkan diri masing-masing. Kita ngobrol sebentar, aku dan Pak Cip sambil merokok kretek. Diujung obrolan Pak Cip setuju kita ngobrol sambil makan nasi lodeh gori tempe pedas di desa Gribig, yang aku tawarkan. Kita bergegas kesana bersama juga dua wanita temannya.<\/p>\n\n\n\n


Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n


Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n

Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d.
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n


Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n


Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n


Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n


Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n

\u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n

Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n

Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n

Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n

Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n

Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n

Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n

Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n

Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n

Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n

Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n

Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n

Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup.
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n

Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n

Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia.
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n

Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n

Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya.
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n

Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n

Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n

\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n

Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n

Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n

Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};