Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n
\u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n
Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n
Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"};
Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d. \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d. \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n Baca: Awal Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung<\/a> <\/p>\n\n\n\n Di Temanggung, saya harus melalui beberapa titik oposisi biner, dan mesti memilih. Ada yang mudah semisal memilih antara pantai atau gunung? Saya akan dengan mudah menjawab gunung. Ada pula yang sulit. Saya mesti memilih antara lolos atau tidak lolos. Hanya dua pilihan itu saja. Ini menyangkut nasib beberapa orang anak. Setidaknya untuk tiga tahun ke depan. Lebih jauh lagi hingga kelak sampai anak itu meninggal dunia. Hari pertama di Temanggung, selepas zuhur, kami menyusuri lereng Gunung Sumbing menuju Desa Gandurejo dari kediaman Bapak Nisa. Saya dan Hakim mengendarai sepeda motor melintasi jalan kampung beraspal, kadang berganti jalan bersemen, atau berbatu. Rumah pertama yang saya datangi di Desa Gandurejo, terletak di Dusun Sejeruk. Rumah Ayu, salah seorang calon penerima beasiswa.<\/p>\n\n\n\n Dua kali kami bertanya kepada penduduk lokal sebelum menemukan kediaman Ayu. Ketika kami tiba, Ayu sedang mengangkat para-para bersama Bapaknya. Para-para itu berisi cabai yang baru selesai dipanen. Saya tahu itu Ayu karena sembari memberi salam, saya membuka berkas yang salah satu isinya adalah foto Ayu bersama kedua orang tuanya. Baca: Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (2)<\/a> <\/p>\n\n\n\n Lima belas menit di Dusun Sejeruk, kami bergegas ke Dusun Luwihan, masih di Desa Gandurejo, Kecamatan Bulu. Di dusun ini, saya mesti mendatangi dua rumah yang salah satu penghuninya di tiap rumah adalah calon penerima beasiswa. Rumah pertama yang kami datangi, terletak di tepi jalan kampung, jalan makadam.<\/p>\n\n\n\n \u00a0Saya bercita-cita memiliki rumah yang terletak di kaki gunung. Di lingkungan semacam Dusun Luwihan saya membayangkan rumah saya berdiri. Dataran sempit di kemiringan, halaman luas ditanami pohon cengkeh, sayuran, dan tembakau. Karena saya sedang berkhayal, saya juga berkhayal menanam pohon ganja karena dalam dunia khayalan saya, ganja legal dan bermanfaat, sama bermanfaatnya dengan tanaman pangan dan tanaman obat lainnya.<\/p>\n\n\n\n Di halaman belakang, ada kandang kambing dan ayam petelur. Perpustakaan kecil di sebuah rumah panggung dengan buku-buku favorit di dalamnya. Menyenangkan sekali memang berkhayal itu. Sebelum saya kian melantur, saya hentikan sampai di sini saja khayalan saya.\u00a0 Selain bertani, ketika musim panen, Pak Yono juga bekerja sebagai sopir untuk mobil angkut hasil panen. Sayangnya, saya tidak punya banyak waktu menggali cerita jalur distribusi itu dari Pak Yono. Bukan itu tugas saya saat itu. Saya lalu berpindah ke rumah selanjutnya yang berjarak 100 meter saja dari rumah Pak Yono.<\/p>\n\n\n\n Pada tulisan selanjutnya, saya akan menceritakan dua orang penghuni utama rumah ini, seorang ibu dan seorang anaknya. Pada sebuah rumah yang hanya bisa diakses dengan jalan kaki, cerita itu berasal. <\/p>\n","post_title":"Ramadan Bersama Petani Tembakau di Temanggung (3)","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"ramadan-bersama-petani-tembakau-di-temanggung-3","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-23 03:26:58","post_modified_gmt":"2019-05-22 20:26:58","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5748","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"}],"next":false,"prev":true,"total_page":39},"paged":1,"column_class":"jeg_col_2o3","class":"epic_block_3"}; Pertanyaan yang harus aku jawab saat itu juga. Isi pertanyaannya; bagaimana pendapatmu kalau ada cewek merokok?. Langsung aku sambar dengan jawaban \u201ctidak masalah santai aja Pak\u201d. \u201cYang merokok, yang sehat. Yang merokok, yang hidup.\u201d <\/em>Inilah kata-kata salah satu Ulama\u2019 tersohor dikalangan santri kota Kudus dan sekitarnya. Sepintas kata-kata tersebut sederhana dan biasa. Namun bernuansa Mantiqi sebutan dikalangan para santri. <\/p>\n\n\n\n Kata-kata di atas keluar dari sosok orang yang \u2018alim serta cerdas, ia adalah KH. Saifuddin Lutfi terkenal dengan sebutan Mbah Ipud. Menurut cerita KH. Sya\u2019roni Ahmadi, ia adalah orang cerdas. Dulu saat masih dibangku sekolah sukanya tidur, anehnya saat ditanya ia bisa menjawab. Anehnya lagi, kitab dan buku yang dibawa tidak terlihat catatan layaknya murid lainnya. Kalau disuruh pilih, Mbah Ipud dan 1000 bahkan jutaan kamu sambil menunjuk ke aku yang saat itu didepan KH. Sya\u2019roni, masih pilih Ipud.<\/p>\n\n\n\n Baca: Dalil-dalil Akurat yang Membolehkan Merokok<\/a><\/p>\n\n\n\n Semua disiplin ilmu benar-benar ia kuasai, ilmu falaq salah satunya. Salah satu disiplin ilmu jarang orang bisa, dan tergolong langka. Ilmu falaq itu ilmu perbintangan (astronomi), atau sederhananya ilmu untuk menentukan tanggal dengan memakai metode rumus matematik (hitungan). Perkembangan latihan ilmu falaq di Kudus, mulanya pakai rubu\u2019<\/em> (seperempat dari bulan) yang digambarkan dalam kertas di atas kertas ada tulisan dan angka sebagai rumus dan terdapat benang tertempel dipojok fungsinya untuk ditarik garis lurus, dari garis lurus tersebut terlihat kepastian tanggal. <\/p>\n\n\n\n Selanjutnya, latihan dengan memakai rumus yang tercatat dalam kitab badi\u2019atul misal<\/em> sebuah buku didalamnya banyak rumus pasti untuk menghitung dalam penentuan tanggal atau bulan. Terkini KH. Saifuddin Lutfi atau mbah Ipud lewat kreasinya menciptakan cara menghitung dengan rumusan yang di fitur kalkulator, seperti cos, sin dan lain sebagainya. Temuan mbah Ipud ini diajarkan ke para santri di Kudus. <\/p>\n\n\n\n Yang jadi penasaran, kapan Mbah Ipud belajar matematik pada sistem kalkulator? Andaikan punya ijazah hanya lulusan sekolah madrasah, paling lulus tingkat MTS atau SLTP. Saking ahlinya dalam ilmu falaq, ia pernah diminta mengajar sebagai dosen di sekolah tinggi agama Islam (STAIN) Kudus. Sayangnya, ia tidak meneruskan mengajar di STAIN, terganjal administrasi dengan tidak punya ijazah formal.<\/p>\n\n\n\n Baca: Berebut Berkah Kiai Dari Sepuntung Kretek<\/a><\/p>\n\n\n\n Walaupun dikasih kelebihan (\u2018alim dan cerdas) Mbah Ipud ini orangnya sederhana, bawaannya santai. Sering bergaul dengan murid-murid walaupun irit omong. Selain ke\u2019alimannya dan kecerdasannya, yang diingat para santrinya adalah rokok kreteknya. Terlihat saat dimanapun dan saat apapun, rokok kreteknya selalu ada dikantong sakunya. Mbah Ipud pasti akan mencari tempat untuk merokok dimanapun dan pada acara apapun. Ia tergolong perokok yang santun, tidak mau merokok disembarang tempat.<\/p>\n\n\n\n Terakhir kecerdasannya teruji saat Mbah Ipud memecahkan bacaan yang tertulis pada prasasti kuno yang ada di dalam Masjid al-Aqsho Menara Kudus. Saat itu banyak ahli arkeolog dari beberapa universitas terkemuka se Indonesia dan ditambah dari Malaysia didatangkan oleh yayasan menara Kudus bekerjasama dengan pemerintah, untuk menggali informasi tentang hari jadi masjid Menara yang konon berkaitan hari jadi kota Kudus. Namun para arkeolog terkendala membaca tulisan tersebut, karena selain tidak jelas termakan usia, juga banyak simbol dan angka-angka. Dengan jeli dan ditemani rokok kretek, tulisan tersebut sebagian besar terbaca oleh Mbah Ipud.<\/p>\n\n\n\n Faktanya demikian, rokok kreteklah yang selalu menemani Mbah Ipud saat proses pembacaan prasasti yang memakan waktu sangat lama, tidak hanya satu atau dua minggu tapi berbulan-bulan. Diceritakan oleh adiknya yang juga memanggil kakanya dengan sebutan mbah Ipud, melihat dengan mata kepala sendiri disaat mengerjakan sesuatu yang penuh keseriusan berpikir tangan mbah Ipud tidak lepas dari sebatang rokok kretek, seperti saat menghitung untuk menetapkan tanggal dan bulan, dan kemarin saat membaca prasasti. Kalau dalam pekerjaan biasa, Mbah Ipud merokok sewajarnya, kadang meroko kadang ya tidak, sesuai kebutuhan.<\/p>\n\n\n\n Baca: KH. Aziz Masyhuri, Rokok dan Ijtima\u2019 MUI di Padang Panjang<\/a><\/p>\n\n\n\n Saking cerdasnya, mbah Ipud seringkali saat mengajar tidak pernah bawa kitab sendiri, layaknya seorang Kiai saat mengajar santrinya. Ia hanya melihat kitab santri yang didepannya dengan posisi terbalik, seakan-akan sudah hafal kitab tersebut.<\/p>\n\n\n\n Karya siir bahar (bait-bait puisi) berbahasa arab banyak beredar. Bahkan mbah Ipud sering menciptakan bahar yang hurufnya bermakna (hurufnya hidup), bagi santri disebut huruf abajadun. Seperti membuat puisi hari jadi Masjid Menara yang kaitannya dengan hari jadi kota kudus, dalam satu kalimat bermakna tersendiri dan jika dilihat nilai hitungan yang terkandung dalam hurufnya sesuai hitungan abajadun, punya makna tersendiri, berupa tanggal, bulan dan tahun. Itulah kelebihan orang cerdas, tidak sembarang orang bisa hal tersebut. Biasanya membuat siir bahar, hanya terkandung maknanya apa atau artinya apa dalam bahasa Indonesianya. Beda dengan Mbah Ipud, ia menciptakan siir bahar, selain punya arti dalam bahasa Indonesia juga punya arti berbentuk angka dan rumusan matematik. <\/p>\n\n\n\n Dikalangan orang-orang Kudus, banyak yang menganggap mbah Ipud itu orang laduni. Orang yang tanpa proses belajar mengajar, bisa dengan sendirinya menguasai disiplin ilmu. Bahkan cerita kecilnya, ia dahulu dirumah tidah pernah belajar, hobinya memancing di sungai dan bermain laying-layang. Keistimewaannya, apa yang ia lihat dan ia dengar langsung hafal dan memorinya tidak hilang walau termakan usia. <\/p>\n\n\n\n Inilah kisah orang \u2018alim dan cerdas yang selalu ditemani rokok kretek. Seakan-akan hanya rokok kretek sebagai teman setianya, menemani dalam kondisi apapaun, terlebih saat pikiran dan otak terforsir. Bersama rokok kretek pikiran berliannya muncul, bersama kretek otak dan pikirannya sehat dan hidup. Itulah kira-kira makna kata-kata, yang merokok yang sehat. Yang merokok yang hidup. Pernah saya begitu antusias ketika kuliah dulu, itu terjadi pada semester dengan salah satu mata kuliah bernama elektronika nuklir. Dari 14 semester yang saya jalani semasa kuliah S1, itu mungkin semester terbaik, saya bicara kualitas tentu saja. Di semester itu, saya akhirnya menemukan makna luas dari oposisi biner, yang dasarnya saya dapat ketika mempelajari bilangan biner pada kuliah-kuliah elektronika nuklir.<\/p>\n\n\n\n Dari oposisi biner itu, saya bisa belajar dan coba memahami oposisi biner dari panas-dingin, hitam-putih, tinggi-rendah, kanan-kiri, keras-lunak, dan banyak lainnya mulai dari tataran konsep, idealisasi, hingga materi. Saat dihadapkan pada titik oposisi biner, mesti memilih di antara dua pilihan, belajar elektronika nuklir dalam hal ini bilangan biner hingga rangkaian-rangkaian elektrik yang tersusun dari komposisi bilangan biner memberi alat bantu tambahan bagi saya untuk memilih.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n
Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n
Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n
Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n
Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n
Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n
Saya harap saya tidak berlebihan berkata seperti di atas. Diberi kepercayaan menjadi salah seorang dari sebuah tim yang menentukan sekira 70 orang anak lolos atau tidak lolos program Beasiswa KNPK Temanggung, hanya dua pilihan, lolos atau tidak. Oposisi biner yang menguras pikiran dan perasaan saya.<\/p>\n\n\n\n
Jika di rumah pertama saya hanya bertemu Bapak dari calon penerima beasiswa. Di rumah kedua ini, saya bertemu anak dan bapaknya, ibunya sedang berada di kebun. Dari halaman rumah Ayu, saya bisa memandang Puncak Sumbing, di sisi lainnya, dataran luas Kota Temanggung.<\/p>\n\n\n\n
Seorang pria paruh baya menyambut kami. Menyilakan kami masuk ke rumahnya, dan duduk di kursi ruang tamu. Sembari berbincang, sesekali saya melirik ke arah jendela, melihat pohon cengkeh di luar sana. Pak Yono namanya. Ia menceritakan jalur distribusi perdagangan tembakau mulai dari petani hingga pabrikan.<\/p>\n\n\n\n
Sesampainya di warung, kita memesan sesuai selera, kemudian memilih duduk lesehan beralas karpet. Aku dan Pak Cip duluan menuju karpet, setelah pesanan kita terima, kemudian menyusul satu temannya. Temen satunya agak lama menuju karpet, ternyata ia melakukan wawancara pada penjualnya tentang konsep warung. Selesai wawancara, ia menuju karpet tempat kita berkumpul.<\/p>\n\n\n\n
Sehabis makan, aku dan Pak Cip mengeluarkan satu bungkus rokok kretek masing-masing, kemudian mengambil satu batang lalu di rokok. Ternyata, dua temen wanita Pak Cip pun mengeluarkan rokok masing-masing. Akhirnya kita merokok kretek bersama. Sambil merokok aku dan Pak Cip melanjutkan obrolan, bercerita sambil tertawa. Disela-sela obrolan, Pak Cip melontarkan pertanyaan tertuju padaku.<\/p>\n\n\n\n
Sembari aku menceritakan, saat masih menjadi santri di Pondok Pesantren Yogyakarta, aku punya temen cewek namanya Danik dan Mbak Ika, mereka merokok. Bahkan sesekali kalau mereka baru tidak punya rokok minta ke aku, begitupun sebaliknya. Juga aku menceritakan saat aku masih kecil sering melihat ibu-ibu di Kudus punya kebiasaan mengunyah tembakau dibungkus dengan daun sirih. Kebiasaan ibu-ibu terkenal dengan sebutan \u201cnginang\u201d. Satu tradisi mirip dengan merokok, bedanya hanya tidak dibakar dan medianya daun sirih. Tidak hanya itu, dahulu saat abad 19, konon ceritanya banyak ibu-ibu merokok.<\/p>\n\n\n\n
Belum selesai cerita, dua wanita teman Pak Cip yang sedang merokok memotong ceritaku, dengan menceritakan pengalamannya saat merokok di Kudus. Saat mereka merokok di tempat umum menjadi perhatian banyak orang, dan sering mendapatkan stigma negatif. Sehingga sampai saat ini, mereka kalau mau merokok harus memilih tempat yang aman dan nyaman, tidak sebebas kaum adam saat merokok. Bahkan mereka pun, menceritakan salah satu teman-teman Pak Cip yang masih belum menerima apa adanya mereka sebagai teman. Bahkan mereka, beranggapan dengan mengungkapkan bukti, bahwa teman-teman Pak Cip yang belum menerimanya, punya anggapan buruk terhadapnya. Mungkin salah satunya karena mereka merokok. Mereka berdua mengatakan, kita ini manusia seperti yang lain. Tidak butuh penghormatan, tetapi setidaknya dimanusiakan atau dihargai hak kita. Teman-teman Pak Cip jangan munafik, saat di rumah bisa enjoy begitu di tempat umum seakan tidak kenal. Dan sakitnya lagi tidak mau bersalaman dengan kita, mereka sok jaga image. <\/p>\n\n\n\n
Itulah, bentuk protes dua wanita teman Pak Cip kepadaku. Saat itu, aku hanya bisa menjawab \u201cmungkin kebetulan ketemu teman Pak Cip dengan karakter begitu\u201d. Profesi dua wanita ini berbeda yang Desi bergelut dengan dunia farmasi dan obat-obatan. tempat tinggal di Kudus, teritori kerja daerah Kabupaten Pati, Bapak ibunya seorang dokter di Kudus. Hingga ia punya data lengkap sebagian besar apotik di Pati. Sedangkan Dewi bergelut dalam dunia broadcast, terlebih siaran TV. Dan saat ini ia fokus pengelolaan TV desa, untuk menggali potensi desa daerah Kudus dan sekitarnya. Salah satunya mengangkat pembuat biola bahan dasar bambu di desa Colo Kabupaten Kudus, yang rencananya akan di bawa ke Jakarta. Selain itu mengangkat potensi batik Lasem untuk go internasional. Hidupnya sering di kota kota besar, seperti Semarang dan Jakarta banyak terlihat kaum hawa merokok.<\/p>\n\n\n\n
Mereka pun menceritakan, bahwa kebiasaan merokok mereka tidak sesuka hatinya. Mereka tetap menghargai terhadap orang yang tidak merokok. Jadi saat merokok, mereka memilih jauh dari anak kecil, apabila disampingnya ada orang lain yang tidak merokok, mereka akan meminta ijin dahulu. Mereka mendidik anak-anaknya agar selalu menghargai orang lain, baik yang merokok atau yang tidak merokok, karena merokok adalah pilihan hidup.<\/p>\n\n\n\n
Jika memang cerita Desi dan Dewi benar adanya, secara pribadi menyayangkan hal tersebut. Seharusnya, sebagai kota industri kretek perlakukan terhadap wanita perokok tidaklah demikian. Hal ini berlaku di kota lain tidak hanya Kudus, kita harus menghargai hak wanita yang merokok. Jangan ada diskriminasi dan stigma buruk bagi wanita perokok. Karena rokok adalah barang legal, keberadaannya di atur pemerintah. Hanya para anti rokok yang sengaja mau membunuh keberadaan rokok kretek sebagai salah satu strategi politik dagang, yang ujung-ujungnya kepentingan asing. Tidak selamanya wanita yang merokok itu nakal, nayatanya dua wanita teman Pak Cip, orangnya baik, suka saling membantu, walaupun profesi mereka berbeda-beda, menjadi wanita mandiri, dan wanita kreatif. Mereka berdua, mempunyai pekerjaan yang terhormat, bahkan termasuk pekerjaan yang sulit dan penuh kreasi. Satunya berhubungan dengan obat-obatan dan yang satu berhubungan dengan media TV. Dengan demikian, apa salahnya kalau mereka merokok kretek?, saya kira tidak ada yang salah dan tidak masalah. Hanya orang-orang yang kurang pengalaman dan kurang bergaul beranggapan negatif. Mari kita hargai hak mereka boleh merokok, lagian mereka tetap menghormati hak orang yang tidak merokok. <\/p>\n","post_title":"Apa yang Salah Kalau Wanita Merokok?","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"apa-yang-salah-kalau-wanita-merokok","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-27 12:53:55","post_modified_gmt":"2019-05-27 05:53:55","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5758","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5752,"post_author":"877","post_date":"2019-05-24 09:29:45","post_date_gmt":"2019-05-24 02:29:45","post_content":"\n
<\/p>\n","post_title":"Mbah Ipud, Seorang \u2018Alim dan Cerdas yang Hobi Mengisap Rokok Kretek","post_excerpt":"","post_status":"publish","comment_status":"closed","ping_status":"closed","post_password":"","post_name":"mbah-ipud-seorang-alim-dan-cerdas-yang-hobi-mengisap-rokok-kretek","to_ping":"","pinged":"","post_modified":"2019-05-24 09:29:52","post_modified_gmt":"2019-05-24 02:29:52","post_content_filtered":"","post_parent":0,"guid":"https:\/\/bolehmerokok.com\/?p=5752","menu_order":0,"post_type":"post","post_mime_type":"","comment_count":"0","filter":"raw"},{"ID":5748,"post_author":"878","post_date":"2019-05-23 03:26:50","post_date_gmt":"2019-05-22 20:26:50","post_content":"\n