Mari Memanusiakan Perokok

Beberapa minggu yang lalu, berlangsung sebuah perlombaan olahraga lintas negara se-Asia. Bertempat di dua kota di Indonesia yaitu Palembang dan Jakarta. Ajang kompetisi multi-cabor ini mengangkat isu kebersamaan di tengah keberagaman. Para atlet dari berbagai negara di Asia datang membawa semangat dan berharap pulang membawa kebanggaan atas nama negaranya.

Ajang empat tahunan ini disambut antusias oleh banyak orang. Bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di negara-negara Asia lainnya. Belum mulai upacara pembukaan saja, orang sudah berebut saling mendahului membeli tiket untuk menyaksikan dan mendukung Timnas kesayangan mereka.

Sebagai panitia pelaksana, saya ikut terlibat menyukseskan gelaran Asian Games 2018 ini. Tentu ada banyak hal yang saya alami dan saya pelajari dari kesempatan menjadi panpel di salah satu cabang olahraga (cabor) Asian Games. Secara keseluruhan acara berlangsung sukses. Tapi bukan berarti tidak terdapat kekurangan. Saya menemukan banyak kendala baik yang bersifat teknis maupun non-teknis.

Masalah itu – saya sebut saja masalah karena memang ini masalah yang cukup krusial bagi saya dan perokok lainnya – muncul ketika hari pertandingan pertama tiba. Banyak penonton, media, sponsor, merchant, petugas keamanan, kontraktor, dan panitia yang beberapa di antara mereka adalah perokok. Saya menyimpulkan demikian karena saya melihat mereka langsung sedang merokok dan ada beberapa yang bertanya kepada saya di mana tempat untuk merokok. Di sini saya mendapati dua kesulitan. Pertama, kesulitan untuk merokok. Kedua, kesulitan untuk menjawab pertanyaan tadi.

Belum ada tanda positif dari panitia pusat ataupun panitia dari cabor tempat saya ditugaskan akan pentingnya fasilitas untuk perokok. Adanya larangan merokok di lokasi harusnya juga diimbangi dengan ketersediaan tempat khusus untuk merokok. Bagaimana mungkin ada larangan buang air di tempat umum tapi tidak disediakan tempat buang air. Kira-kira begitu analoginya.

Keluhan saya dan para perokok baru mendapat angin segar beberapa hari kemudian. Kami para perokok dipersilakan merokok di emperan belakang gedung salah satu cabor. Dengan diberi sekat kami sudah bisa merokok tanpa terlihat mencolok dari pusat keramaian. Tapi kami belum puas. Bukan karena tidak ada rokok dan kopi gratis tapi karena emperan itu juga adalah jalan untuk orang lalu lalang dari depan ke belakang. Ditambah lagi sinar matahari ikut menyeduh kami bersama debu-debu bangunan baru. Dari penjelasan itu sudah tergambar betapa perokok kurang terlayani bukan?

Paling tidak sediakan saja lapak yang teduh. Kami punya kretek dan kopi kami sendiri. Ini bukan tentang polusi. Ini tentang sensasi yang semua orang bisa nikmati asalkan dalam kondisi dan situasi yang tepat. Perokok merokok di tempat khusus dan non perokok bisa bebas menghirup udara segar tanpa harus membenci perokok.

Bayangkan saja kalau kamar mandi tidak disediakan. Sedangkan hampir semua pengunjung butuh kamar mandi. Apapun keperluannya. Pasti mereka yang ingin masuk kamar mandi akan mencari. Jika gagal menemukan, mereka akan membuat lapak hajatnya sendiri. Di tempat yang bukan kamar mandi tentunya. Begitu pula halnya perokok. Perokok juga manusia, manusiakanlah semua manusia

Bijak Berkomentar Tanda Kretekus Santun

Penikmat Kretek dan Pengamat Perempua

ARTIKEL TERKAIT

Romansa Sebatang Kretek di Hari Santri Nasional

Di dunia pesantren, menghisap kretek tidak semata menjadi alat relaksasi dan teman ketika mengisi kegelisan hati, lebih dari itu rokok…

Kisah Sebatang Kretek

Usai sebuah diskusi tentang Aceh, jelang akhir bulan Mei 2005, kami diundang untuk sebuah santap sore di sebuah gedung tidak…

Para Wali yang Mendidik dengan Rokok

Di dunia ini terdapat banyak hal yang meluluhlantakkan nalar kita sebagai manusia. Salah satunya adalah bagaimana cara kiai mendidikan umat…

Kopi dan Kretek untuk Sukarelawan

Hingga hari ini, satu-satunya film seri yang selesai saya tonton hingga episode terakhir adalah Prison Break. Satu yang hingga kini…